Motivasi Belajar

4.1. Pengertian dan Pentingnya Motivasi

Motivasi berasal dari kata Inggris motivation yang berarti dorongan, pengalasan dan motivasi. Kata kerjanya adalah to motivate yang berarti mendorong, menyebabkan dan merangsang. Motivate sendiri berarti alasan, sebab dan daya penggerak (Echols, 1984). Motif adalah keadaan dalam diri seseorang yang mendorong individu tersebut amok melakukan aktifitas-aktifitas tertentu guna mencapai tujuan yang diinginkan (Suryabrata, 1994). Secara serupa Winkels (1987) mengemukakan bahwa motif adalah penggerak dalam diri seseorang mau melakukan aktifitas-aktifitas tertentu dalam mencapai suatu tujun tertentu pula.

Dalam kegiatan belajar mengajar, dikenal adanya motivasi belajar, yaitu motivasi yang diterapkan dalam kegiatan belajar. Motivasi belajar adalah keseluruhan dari penggerak psikis dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan belajar itu demi mencapai suatu tujuan (Winskel, 1987).

Motivasi belajar memegang peranan penting dalam memberikan gairah, semangat dan rasa senang dalam belajar sehingga yang mempunyai motivasi tinggi mempunyai energi linggi yang banyak untuk melaksanakan kegiatan belajar. Siswa yang mempunyai motiasi belajar tinggi sangat sedikit yang tertinggal belajarnya dan sangat sedikit putus kesalahan dalam belajarnya (Palardi, 1975).

Ada beberapa ciri siswa yang mempunyai motivasi belajar yang tinggi. Ini dapat dikenali dalam proses belajar mengajar di kelas, sebagaimana dikemukakan Brown (1981) sebagai berikut: tertarik kepada guru, artinya tidak membenci atau bersikap acuh tak acuh ; tertarik pada mata pelajaran yang diajarkan ; mempunyai antusias yang tinggi serta mengendalikan perhatiannya

terutama kepada guru, ingin selalu bergabung dalam kelompok kelas; ingin identitas dirinya diakui oleh orang lain; tindakan, kebiasaan, dan moralnya selalu dalam kontrol diri; selalu mengingat pelajaran dan mempelajarinya kembali; dan selalu terkontrol oleh lingkungannya.

Sardiman (1986) mengemukakan bahwa ciri-ciri motivasi yang ada pada diri seseorang adalah: tekun dalam menghadapi tugas atau dapat bekerja secara. terus menerus dalam waktu lama; ulet dalam menghadapi kesulitan dan tidak mudah putus asa, tidak cepat puas atas prestasi yang diperoleh; menunjukkan minat yang besar terhadap bermacam-macam masalah belajar; lebih suka bekerja sendiri dan tidak bergantung kepada orang lain; tidak cepat bosan dengan tugas-tugas rutin; dapat mempertahankan pendapatnya; tidak mudah melepaskan apa yang diyakini; senang mencari dan memecahkan masalah.

Suatu hal yang penting adalah bahwa motivasi pada setiap tingkat yang diatas hanya dapat dibangkitkan apabila telah diperngaruhii tingkat motivasi di bawahnya. Bila kita ingin anak belajar dengan baik (tingkat 5), maka haruslah terpengaruh tingkat 1-4. Anak yang lapar, merasa tidak aman, yang tidak dikasihi, yang tidak diterima sebagai anggota masyarakat kelas, yang guncang harga dirinya, tidak akan dapat belajar dengan baik.

Motivasi kelakuan manusia merupakan topik yang sangat luas. Banyak macam motivasi dan para ahli meneliti tentang bagaimana asal dan perkembangannya dan menjadi suatu “daya” dalam mengarahkan kelainan seseorang. Motivasi diakui sebagai hal yang sangat penting bagi pelajaran di sekolah.

Ada sejumlah tokoh yang meneliti soal motivasi belajar ini. Hewitt (1968) mengemukakan bahwa “attentional set” merupakan dasar bagi perkembangan motivasi yakni yang bersifat sosial. artinya anak itu suka bekerja sama dengan anak-anak lain dan dengan guru, ia mengharapkan penghargaan dari teman-temannya dan mencegah celaan mereka, dan ingin mendapatkan harga dirinya di kalangan kawan sekelasnya. Selanjutnya anak itu memperoleh motivasi anak menguasai pelajaran (matery), termasuk penguasaan kemampuan intelektual. Dengan reinforcement yakni penghargaan atas keberhasilannya motivasi itu dapat dipupuk. Taraf motivasi tertinggi menurut hewitt ialah motivasi untak “achievemenf’ atau keberhasilan yang merupakan syarat agar anak im didorong oleh kemauannya sendiri dan merasa kepuasan dalam mengatasi tugas-tugas yang kian bertambah sulit dan berat. Bila taraf ini tercapai, maka anak itu sanggup untuk belajar sendiri.

Juga peneliti lain mengemukakan pentingnya reinforcement berupa pujian, penghargaan yang diberikan bila hasil belajar anak mendekati bentuk kelakuan yang di inginkan, dan tidak perlu di tunggu sampai hasil belajarnya benar sepenuhnya. Siswa perlu diberitahukan tentang hasil pekerjaanya sehingga ia dapat menilai keberhasilannya dan kegagalannya. Akhirnya anak itu harus meningkat dalam bentuk penghargaan dari yang konkrit kepada rasa putas atas keberhasilannya menurut standar yang ditentukannya sendiri.

Pentingnya motivasi

Secara konseptual motivasi berkaitan erat dengan prestasi atau perolehan belajar. Pembelajaran yang tinggi motivasi, umumnya tinggi pula perolehan belajarnya. Sebaliknya, pembelajaran yang rendah motivasinya, rendah pula perolehan belajarnya. Demikin juga pembelajuan yang sedang-sedang saja motivasinya, umumnya perolehan belajannya juga sedang-sedang saja.

Banyak riset yang membuktikan bahwa tingginya motivasi dalam belajar berhubungan dengan tingginya prestasi belajar. Bahkan pada saat ini, kaitan antara motivasi dengan perolehan dan atau prestasi ini tidak hanya dalam belajar. Dalam kerjapun, motivasi mi juga sangat prating. Salah satu hasil peneliti juga menunjukkan bahwa siswa yang mempunyai motivasi-berprestasi umumnya juga mempunysu prestasi yang lebih tinggi. Pegawai atau karyawan yang mempunyaj motivasi berprestasi tinggi juga menunjukkan performansi profesional yang diharapkan atau di atas rata-rata teman atau sejawatnya.

Bahkan dewasa ini, ada juga yangg mengembangkan motivasi berprestasi atau motivasi belajar ini menjadi motif berkompetensi yang dimaksud dengan berkompetensi adalah dorongan-dorongan untuk menguasai kompetensi keahliannya. Terbukti dengan jelas, bahwa mereka yang mempunyai motivasi kompetensi yang tinggi cenderung lebih mengusai bidang-bidangnya dibandingkan dengan mereka yang rendah motif kompetensinya.

Oleh karena itu, motivasi belajar sangat urgen dalam peningkatan perolehan belajar. Dalam khasanah kepustakaan kependidikan, motivasi sering-sering disebut secara berulang-ulang sebagai variabel yang banyak menentuk perolehan belajar. Bahkan, orang yang sukses disegala bidang, lebih banyak disebabkan oleh tingginya motivasi yang mereka punyai.

Juga untuk belajar diperlukan motivasi “motivation is dan essential condition of learning“. Hasil belajarpun banyak ditentuk oleh motivasi. Makin tepat motivasi yang kita berikut, makin berhasil pelajaran itu. Motivasi menentukan intensitas usaha anak belajar.

Motivasi melepaskan energi atau tenaga yang ada pada seseorang.

Setiap motivasi bertalian erat dengan suatu tujuan. Tensing dan Hillary mungkin ingin membuktikan kesanggupan manusia. untuk menaklukan puncak tertinggi itu. Tukang becak menahankan panas dan hujan untuk meneari nafkah bagi anak istrinya

Motivasi mempunyai tiga fungsi:

(a)    Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagal penggerak atau motor yang melepaskan energi.

(b)   Menentukan arah perbuatan, yakni kearah tujuan yang hendak dicapai.

(c) Menyeleksi perbuatan. yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dijalankan yang serasi guna mencapai Tujuan itu, dengan menyampingkan perbuatan-perbuatan yang tak bermanfaat bagi tujuan ini. Seorang yang betul-betul bertekad menang dalam pertandingan, tak akan menghabiskan waktunya bermain karena, sebab tidak serasi dengan tujuan.

Dalam bahasa schari-hari motivasi dinyatakan dengan; hasrat, keinginan, maksud, tekad, kenuman, dorongan, kebutahan, kehendak, cita-cita, keharusan, kesedihan dan sebagainya.

4.2. Sifat Motivasi Intrinsik dan Ekstrinsik

Motivasi dapat di bedakan atas motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Yang dimaksud dengan motivasi intrinsik adalah motivasi yang berasal dari dalam individu.

Ausabel (1968) berpendapat babwa modyasi yang dikaitkan dengan motivasi sosial tidak begitu penting dibandingkan dengan motivasi yang bertalian dengan penguasaan tugas dan keberhasilan. Motivasi serupa ini bersifat intrinsik dan keberhasilannya akan memberi rasa kepuasan. Selain ini keberhasilan itu mempertinggi harga dirinya dan rasa kemampuannya.

Dalam hal pertama ia didorong oleh motivasi intrinsik yakni ia ingin mencapai tujuan yang terkandung didalam perbuatan belajar itu. Dalam belajar telah terkandung tujuan menambah pengetahuan “intrinsk motivations are inherent in the learning situasions and meet pupil needs and purposes“. Demikian pula bila semang main badminton untuk menikmatinya, didorong oleh motivasi intrinsik, yakni ‘for the pleasure of the activity“.

Motivasi belajar secara intrinsik sebenamya memang telah ada. Ini sesuai dengan teori, yang memandang bahwa segala tindakan manusia, termasuk belajar, adalah karena terdapatnya tanggungjawab internal pada diri manusia itu. Manusia, dalam sudut pandang teori ini, memang termsuk makhluk yang baik: tinggi tanggungjawabnya, suka bekerja termasuk belajar, tinggi militansi kerja atau belajarnya, selaia ingin berprestasi. Berarti, dalam diri manusia sebenarnya terdapat dorongan-dorongan yang kuat untuk belajar.

Sungguhpun demikian, rekayasa lingkungan perlu diberikan agar seseorang tetap belajar. Rekayasa lingkungan antara lain dapat berupa motivasi ekstrinsik. Mengapa motivasi ekstrinsik perlu diberikan, tak lain karena seseorang tidak senantiasa bemda dalam keadaan menetap. Bisa terjadi, seseorang yang mempunyai motivasi belajar intrinsik yang demikian tinggi tiba-tiba melemah. Supaya melemahnya motivasi intrinsik ini tidak sampai berada pada tingkatan yang sangat rendah, perlu dikontrol dengan menggunakan motivasi ekstrinsik.

Pada orang yang tingleat motivasi intrinsiknya rendah, justru motivasi ekstrinsik ini sangat diperlukan. Motivasi ekstrinsik yang diberikan secara tepat, justru secara berlahan dapat mencangkokkan motivasi intrinsik mtuk belajar manakala belajar yang direkayasa dengan motivasi ekstrinsik tersebut telah menjadi kebiasaan bagi pembelajar. Bahkan kalau sudah sampai di tahap mempribadi, seseorang akan tinggi motivasi belajarnya secara intrinsik.

Adakah suatu kenyataan, bahwa anak manusia itu tidak sama, termasuk motivasinya. Ketidaksamaan dalam motivasi intrinsik yang dipunyai ini, dapat dikurangi dengan memberikan motivasi eksuinsik.

Bila seorang belajar untuk mencari penghargaan berupa angka, hadiah, diploma, dan sebagainya. Ini didorong oleh motivasi ekstrinsik, oleh sebab tujuan-tujuan itu terletak di luar perbuatan itu, yakni tidak terkandung didalam perbuatan itu sendiri. “The goal is artifkially introduced“. Tujuan itu bukan sesuatu yang wajar dalam kegiatan. Anak-anak didorong oleh motivasi intrinsik, bila mereka belajar agar lebib sanggup mengatasi kesulitan kesulitan hidup, agar memperoleh pengertian, pengetahum, sikap yang baik, penguasaan kecakapan. Hasil-hasil itu sendiri telah merupakan hadiah.

The reward of a thing well done is to have done it“(Emerson). Ganjarant bagi sesuatu yang dilakukan dengan baik ialah telah melakukannya. Jadi motivasi ekstrinsik disini tidak perlu.

Akan tetapi di sekolah sering digunakan motivasi ekstrinsik seperti angka-angka, pujian, ijazah, kenaikan tingkat, celaan, hukuman, dan sebagainya. Motivasi eksifinsik dipakai oleh sebab pelajaran-pelajaran sering tidak dengan sendirinya menarik dan guru sering kurang mampu untuk membangkitkan minat anak.

Membangkitkan motivasi tidak mudah. Untuk itu guru perlu mengenal murid, dan mempunyai kesanggupan Kreatif untuk menghubungkan pelajaran dengan kebutuhan dan minat anak.

4.3. Motivasi dalam Belajar dan Unsur-Unsur yang mempengamhi motivasi belajar

Motivasi sangat krusial dalam belajar dan pembelajaran. pada hal, motivasi belajar tersebut juga dipengaruhi oleh banyak unsur antara lain: cita-cita aspirasi penubelajar, kemampuan pembelajar, kondisi pembelajar, kondisi lingkungan belajar, unsur-unsur dinamis belajar. Pembelajaran dan upaya-upaya guru dalam membelajarkan pembelajar. Oleh karena itu, unsur-unsur yang mempengaruhi tersebut, perlu diketahui dan diperhatikan oleh guru yang membelajarkan pembelajar. Agar dapat mendukung lebih optimal terhadap motivasi belajar. Jika unsur-unsur yang mempenguuhi tersebut tidak diketahui dan tidak diperhatikan, bisa menjadi penyebab rendahnya motivasi belajar para pembelajar.

Sebagai konsekuensi atas perhatian guru terhadap unsurunsur yang mempengaruhi motivasi belajar dan unsur-unsur yang mempengamhi tersebut, guru hendaknya senantiasa berupaya meningkatkan motivasi belajar. Upaya meningkatkan motivasi belajar tersebut dilakukan dengan cara mengoptimalkan penerapan prinsip-prinsip belajar, mengoptimalkan unsur-unsur belajr / pembalajaran, mengoptimalkan pemanfaatan pengalaman kemampuan yang di miliki oleh pembelajar dan mengembangkan cita-cita dan aspirasi pembelajar.

Ausubel mengatakan adanya hubungan antara motivasi dan belajar. Motivasi bukan mempakan syarat mutlak untuk belajar tak perlu lebih dahulu ditunggu adanya motivasi sebelum kita mengajarkan sesuatu. Bahkan kita dapat mengabaikan motivasi dan memusatkan perhatian kepada pengajaran itu sendiri. Bila belajar itu berhasil, maka akan timbul motivasi itu dengn sendirinya dan keinginan untuk lebih banyak belajar. Sukses dalam belajar akan membangkitkan motivasi untuk belaiar.

Menurut Skinner(1968) masalah motivasi bukan soal memberikan motivasi, akan tetapi mengatur kondisi belai sehingga memberikan reinforcement.

Motivasi yang dianggap lebih tinggi tarafnya daripada penguasaan tugas ialah “achievement motivation” yakni motivasi untuk mencapai atau menghasilkan sesuatu. Motivasi ini lebib mantap dan memberikan dorongan kepada sejumlah besar kegiatan, termasuk yang berkaitan dengan pelajari, di sekolah. McClelland (1965) yang menyelidiki berbagai hal yang dapat mempertinggi motivasi ini, misalnya dengan merumuskan tujum dengan jelas, mengetahui kemajuan yang dicapai, merasa turut benanggungjawab, dan lingkungan sosial yang menyokong.

Peneliti lain, White (1959) mengemukakan konsep kompetensi. Motivasi kompetensi mempunyai dasar biologis, jadi juga terdapat pada binatang, antara lain motivasi menyalidiki aktivitas manipulasi. Ada pula peneliti yang mencari motiyasj positif yang dinyatakan dengan istilah “mastery”, “egoinvolvement” (keterlibatan diri), dan lain-lain. White berpendapat bahwa kegiatan anak tak dapat dijelaskan dengan dorongan untuk memuaskan kebutuhan makan, minum, dan sebagainya. Akan tetapi karena kegiatan untuk berinteraksi secara efektif dengan lingkungannya yang memberikan rasa mampu. Setiap orang ingin menguasai lingkungannya.

Walaupun teori-teori motivasi berbeda-beda, nanum dalam praktek pendidikan penerapannya bersamaan. Pelajar harus diberikan ganjaran (reward) berupa pujian, angka ang baik, rasa keberhasilan atas hasil belajarnya, sehingga ia lebih tertarik oleh pelajaran. Keberhasilan dalam interaksi dengan lingkungan belajar, penguasaan tujuan program pendidikan memberikan rasa kepuasan dan karena ini merupakan sumber motivasi yang terus menerus bagi pelajar, sehingga ia sanggup belajar sendiri sepanjang bidupnya, yang dapat dianggap sebagai salah samtu hasil pendidikan yang paling penting.

Unsur-Unsur Yang Mempengaruhi Motivasi

Ada beberapa unsur yang mempengaruhi motivasi belajar. Unsur-unsur tersebut adalah :

  1. Cita-cita / aspirasi pembelajar
  2. Kemampuan pembelajar
  3. Kondisi pembelajar
  4. Kondisi lingkungan belajar
  5. Unur-unsur dinamis belajar Ipembelajaran
  6. Upaya guru dalam membelajarkan pembelajar

Unsur-unsur tersebut dijelaskan sebagaimana pada uraian berikut :

  1. a. Cita-cita / aspirasi pembelajaran

Setiap manusia senantiasa mempunyai cita-cita atau aspirasi tertentu didalam hidupnya temasuk pembelajar. Cita-cita atau aspirasi ini senantiasa ia kejar dan ia perjuangkan. Bahkan tidak juang, meskipun rintagan yang ditemui sangat banyak dalam mengejar cita-cita dan aspirasi tersebut seseorang tetap berusaha semaksimal mungkin karena hal tersebut berkaitan dengan cita-cita dan aspirasinya. Oleh karena itu, cita-cita dan aspirasi sangat mempengaruhi terhadap motivasi belajar seseorang.

Seseorang yang bercita-cita menjadi dokter, pada saat masih sedang belajar dijenjang pendidikan dasar, tentu menggemari terhadap mata pelajaran-mata pelajaran dan bacaan-bacaan yang berkaitan erat dengan ilmu kesehatan. Meskipun mata pelajaran tersebut masih terintegrasi dengan mata pelajaran IPA, ia akan lebih bergairah dengan mata pelajaran tersebut. Oleh karena itu. ia akan lebih temotivasi mempelajari mata pelajaran tersebut dibandingkan dengan mata pelajaran yang lainnya.

Sebaliknya seseorang yang kebetulan berstatus mahasisma dan dahulunya bercita-cita menjadi ahli hukum tetapi ia dipaksa oleh orang tuanya mengambil jurusan teknik elektro. Dapat dipastikan kesungguhan belajarnya akan berkurang karena apa yang ia pelajari tidak sesuai dengan cita-cita dan aspirasinya. Ketidaksungguhan dalam belajar demikian ini tentu lantaran jurusan yang dipaksakan oleh orang tuanya tidak cocok dengan cita-cita dan aspirasinya. Ia kendor motivasinya, bisa jadi, pada saat-saat masih disekolah menengah ia tinggi motivasi belajarnya sebaliknya pada saat sudah menjadi mahasiswa motivasi yang tinggi tersebut berubah menjadi rendah. Itulah sebabnya, maka cita-cita dan aspirasi pembelajaran ini perlu diperhitungkan dalam rangka meningkatkan motivasi belajar seseorang, karena cita-cita atau aspirasi ini mempengaruhi motivasi belaiar.

b. Kemampuan Pembelajar

Kemampuan manusia satu dengan yang lain tidaklah sama. Menuntut seseorang sebagaimana orang lain dari bingkai penglihatan demikian tentulah tidak diberikan. Sebab, orang yang mempunyai kemampuan rendah akan sangat susah menyerupai orang yang mempunyai kemampuan tinggi; dan sebaliknya orang yang berkemampun tinggi, akan menjadi malas jika dituntut sebagaimana mereka yang berkemampuan rendah.

Oleh karena itu, kemampuan pembelajar ini haruslah diperhatikan dalam proses belajar pembelajaran. Kemampuan pembelajar erat hubungannya dan bahkan mempengaruhi motivasi belajar pembelajar. Bisa terjadi, seseorang menjadi rendah motivasi belajarnya terhadap bidang tertentu oleh karena yang bersangkutan rendah kemampuannya dibidang tersebut.

c. Kondisi pembelajar

Kondisi pembelajar dapsat dibedakan atas kondisi fisiknya dan kondisi psikologisnya. Dua macam kondisi ini, fisik dan psikologis, umumnya saling mempengamhi satu sama lain. Jiwa yang sehat terdapat pada tubuh yang sehat. Dalam realitasnya juga berlaku kebalikannya. Bila seseorang kondisi psikologisnya tidak sehat, bisa berpengaruh juga terhadap ketahanan dan kesehatan fisiknya.

Sangatlah jelas dan sering dirasakan oleh siapapun jika kondisi fisik dalam keadaan lelah, umumnya motivasi belajar seseorang akan menurun. Sebaliknya jika kondisi fisik berada dalam keadaan bugar dan segar, motivasi belajar bisa meningkat. Berarti, kondisi fisik seseorang mempengaruhi motivasi belajarnya. Orang yang sudah sangat lelah tidak baik kalau belajar. Demikian juga kalau sedang sakit, tidak bails untuk dipaksa belajar.

Dalam kondisi psikologis terganggu, sebutlah misalnya stress, juga tidak bisa mengkonsentrasikan diri terhadap hal-hal yang dipelajari. Kmena tidak bisa konsentrasi, mka gairah belajarnya menurun. Keadaan demikian ini, bisa menjadikan seseorang belajar merasa terpaksa dan tidak banyak bemotivasi.

Jelaslah bahwa kondisi pembelajar, baik yang bersifat fisik maupun psikis, sama-sama berpengaruh terhadap motivasi belajarnya. Ada kalanya seseorang yang pada masa-masa sebelumnya bemotivasi belajar tinggi, tiba-tiba menjadi rendah hanya karena kondisi fisik dan psikologisnya terganggu atau sakit. Tidak jarang, seseorang yang motivasi belajarnya biasa-biasa saja, tiba-tiba berubah karena kondisi fisik dan psikologisnya dalam keadaan prima.

d. Kondisi lingkungan belajar

Sudah umum diketahui bahwa yang menentukan motivasi belajar seseorang, selain faktor individu juga faktor lingkungan. lebih-lebih lingkungan belajar. Sebab, individu secara sadar ataukah tidak, senantiasa tersosialisasi oleb lingkungannya. Lingkungan belajar ini meliputi : lingkungan fisik dan lingkungan sosial.

Yang dimaksud dengan lingkurigan fisik adalah tempat dimana pembelajar tersebut belajar. Apakah tempat belajarnya nyaman ataukah tidak, apakah tempatnya segar atau pengap. Hal-hal demikian ini berpengaruh terhadap motivasi belajar. Demikian juga yang amburadul, tidak memberikan gairah bagi belajar seseorang. Sebaiknya tempat yang teratur, yang tertata rapi, mendorong seseorang bergairah belajar. Tempat belajar yang berisik oleh suara bisa menganggu belajar, yang tenang, bisa menimbulkan gairah belajar. Jadi lingkungan fisik berpengaruh terhadap motivasi belajar.

Lingkungan sosial adalah suatu lingkungan seseorang dalm kaitannya dengan orang lain. Contohnya berupa lingkungan sepermainan, lingkungan sebaya, kelompok belajar. Sungphpun faktor pribadi pribadi seseorang lebih menentukan terhadap diri sendiri tetapi harus diakui bahwa lingkungan sosial juga menentukan motivasi belajar seseorang. Contohnya jika dalam lingkungan sosial seseorang tidak terbiasa dengan aktivitas belajar maka bukan budaya belajar itu yang dikembangkan oleh seseorang.

Dalam lingkungan yang kompetitif untuk belajar, seseorang yang berada dilingkungan tersebut akan terbawa serta untuk belajar seperti orang lain. Baik secara sadar atau tidak.

e. Unsur-Unsur Dinamis belajar pembelajar

Unsur dinmis belajar pembelajar meliputi hal-hal sebagai berikut :

  1. Motivasi dan upaya memotivasi siswa untuk belaiar
  2. Bahan belajar dan upaya penyediannya
  3. Alat bantu belajar dan upaya penyediaannya
  4. Suasana belajar dan upaya pengembangannya
  5. Kondisi subjek belajar dan upaya penyiapan dan peneguhannya

Oleh karena itu, unsur- unsur dinamis dennkian ini patut diperhatikan agar motivasi belajar pembelajar menjadi tinggi. tingginya motivasi belajar berimplikasi bagi maksimainya perolehan belajar pembelajar.

Unsur dinamis belajar dan pembalajar Motivasi belajar pembelajar Perolehan belajar pembelajar jika kaitan antara unsur-unsur dinamis dalam belajar dengan motivasi dan perolehan belajar

f. Upaya Guru dalam Membelajarkan pembelajar

Upaya guru dalam membelajarkan pembelajar juga berpengaruh terhadap motivasi belajar. Guru yang tinggi gairahnya dalam membelajarkan pembelajar, menjadikan pembelajar juga bergairah belajar, guru yang sungguh-sunggub dalam membelajukan pembelajar, menjadikan tingginya motivasi belajar pembelajar. Pada guru yang demikian umumnya mempersiapkan diri dengan matang dan senantiasa memberikan yang terbaru dan terbaik kepada pembelajar. Oleh karena yang di berikan tersebut menarik. Terbaik dan mungkin terbaru. Maka tingkat aktualitasnya  sangat tinggi dimata pembelajar. Sebagai akibatnya, hal-hal yang disajikan oleh guru menjadi menarik dimata pembelajar. Menariknya hal-hal yang diberikan ini hisa menjadikan tingginya motivasi pembelajar.

Sebaliknya pada guru yang tidak bergairah dalar membelajarkan pembelajar, umumnya mengulang saja pelajaran yang di berikan dari tahun ketahun. Proses belajar pembelajar terasa kering dan kehilangan nuansa. Akibat dari proses belajar pembelajaran demikian ini, pembelajar tidak bergairah dan babkan mungkin kehilangan motivasi. Hal demikian bisa lebib parah lagi. manakala guru yang membelajarkan tersebut sudah puas dengan keadaan yang demikian ini.

Oleh karena itu, upaya guru untuk membelajarkan pembelajar sangat krusial dalam meningkatkan motivasi pembelajar.

a Meningkatkan motivasi belajar

Upaya belajar senantiasa bergelombang. Adakalanya bergerak naik dan adakalanya bergerak turun. Tidak jarang motivasi belajar hanya mendatar saja. Oleh karena demikian ” watak” motivasi tersebut, maka diperlukan upaya untuk meningkatkannya. Dengan demikian, motivasi belajar yang di punyai oleh pembelajar bisa cenderung naik dan atau minimal Menetap.

Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh guru guna meningkatkan motivasi pembelajar, yaitu :

  1. Mengoptimalkan penerapan prinsip-prinsip belajar
  2. Mengoptimalkan unsur-unsur dinamis belajar / pembelajaran
  3. Mengoptimalkan pemanfaatan pengalaman / kemampuan yang telah dimiliki dalam belajar
  4. Mengembangkan cita-cita / aspirasi dalam belajar

Secara berturut-turut, ketiga cara tersebut di kemukakan sebagai berikut :

  1. Mengoptimalkan penerapan prinsip-prinsip belajar

Ada beberapa prinsip yang harus dipedomani dalam belajar. Prinsip tersebut adalah :

  1. Prinsip perhatian dan motivasi belajar
  2. Prinsip keaktifan belajar
  3. Prinsip keterlibatan langsung pembelajar
  4. Prinsip pengulangan belajar
  5. Prinsip sifat perangsang dan menantang dari materi yang dipelajari
  6. Prinsip pemberian balikan dan penguruan dalam belajar
  7. Prinsip perbedaan individual antar belajar

Ketujuh prinsip ini diterapkan secara optimal agar pembelajar mempunyai motivasi yang tinggi dalam belajar.

Ada dua cara dalam mengoptimalkan penerapan prinsip belajar tersebut. Pertama, menyusun strategi-strategi sehingga prinsip-prinsip tersebut dapat terterapkan secara optimal. Strategi disini, dari pandangan-pandangan dan temuan-temuan teoritik dan dapat pula digali dari kiat guru sendiri. Temuan-temuan ahli psikologi pendidikan dan temuan-temuan ahli pengajaran part[ digali hingga dapat dimanfaatkan untuk mengoptimalkan penerapan prinsip-prinsip belajar.

Kedua, menjauhkan konstrain-konstrain (kendala-kendala) yang ditemui dalam mengoptimalkan penerapan prinsip-prinsip belajar. Kendala demikian ini patut dijauhkan, agar tidak mengganggu bagi penerapan prinsip-prinsip belajar.

  1. Mengoptimalkan Unsur-Unsur Dinamis Belajar / Pembelajaran

Mengingat unsur-unsur belajar / pembelajaran dapat mempengaruhi motivasi, maka ia perlu di optimalkan penerapannya. Pengoptimalan demikian mi perlu dilakukan agar motivasi belajar siswa juga optimal.

Cara mengoptimalkan unsur-unsur dinamis dalam belajar / pembelajaran dalah : pertama, menyediakan secara kreatif berbagai unsur belajar pembelajaran tersebut dalm setting belajar pembelajaran. Penyediaan secara kreatif ini perlu dilakukan, katena umumnya ketika tidak ada guru dan menerima kondisi tersebut apa adanya. Contohnya peralatan pengajaran yang tidak tersedia dapat disediakan dengan merancang sendiri bersama-sama dengan pembelajar.

Kedua, memanfaatkan sumber-sumber diluar sekolah sehingga keterbatasan yang dimiliki oleh sekolah dapat ditanggulangi. Hal demikian dapat dilakukan dengan banyak mengadakan kerjasama dengan sejumlah lembaga diluar sekolah bahkan diluar dunia pendidikan.

  1. Mengoptimalkan Pemanfaatan Pengalaman / Kemampuan Yang Telah Dimiliki Dalam belajar

Setiap pembelajar mempunyai kemampuan dan pengalamn-pengalaman tertentu yang berbeda antara satu dengan yang lain. Kemampuan dan pengalaman yang berbeda demikian ini hendaknya tidak justru menjadi konstrain dalam aktivitas belajarnya. Kemampuan atau pengalaman masa Ialu ini bisa didapatkan oleh pembelajw melalui aktivitas belajar, dan bisa juga didapatkan oleh pembelajar melalui aktivitas lain atau aktivitas non belajar.

Pengalaman dan kemampuan masa Ialu ini bisa menjadi konstrain untuk belajar berikutnya, tetapi tidak jarang bisa mendukung aktivitas belajar. Pengalaman dan kemampuan masa lain bisa menjadi konstrain belajar, manakala dipandang bertentangan dengan pengalaman belajar berikutnya oleh pembelajar. Pengalaman dan kemampuan masa Ialu bisa mendukung terhadap aktivitas belajar manakala sesuai dengan pengalaman belajar berikutnya. Tidak itu saja pengalamana atau kemampuan masa lalu malahan bisa menjadi prasyarat bagi pengalaman berikutnya. dan jika kasus yang trakhir ini terjadi, maka pembelajar tidak dapat mempelajari mata pelajaran berikutnya, tanpa yang bersangkutan telah mempunyai kemampuan dan pengalaman yang diprasyaratkan. Dkk dan Cany (1981) menyebut pengalamn dan kemampuan demikian dengan entry behavior.

Yang harus diupayakan guru agar kemampuan atau pengalaman masa lalu justru mendukung terhadap aktivitas belajar adalah :

  1. Biarkan pembelajar dapat menangkap apa yang dipelajari sekarang ini dari perspektif kemmpuan dan pengalaman masa lalunya. Jangan dipaksa menggunakan perspektif gurunya.
  2. Kaitkan aktivitas belajar pada masa sekarang ini dengan kemampuan dan pengalaman yang sudah dipunyai oleh pembelajar.
  3. Gali dulu pengalaman dari kemampuan yang sudah dimiliki oleh pembelajar melalui tes lisan atau tertulis sebelum menyampaikan materi berikutnya.
  4. Beri kesempatan kepada pembelajar untuk membandingkan apa yang sekarang dipelajari dengan kemampuan dan pengalaman yang telah dimiliki.

4. Mengembangkan Cita-Cita / Aspirasi Dalam Belajar

Cita-cita adalah sesuatu yang dikejar oleh seseorang. Kegiatan-kegiatan seseorang, utamanya kegiatan belajar. Lebih banyak teraksentuasi pada pengejaran dan atau pencapaian cita-cita atau aspirasi tersebut. Maka dari itu cita-cita atau sapirasi tersebut harus senantiasa dikembangkan dalam pembelajaran.

Penjurusan yang ada disekolah-sekolah kita, tidak lain adalah demi penampungan aspirasi dan cita-cita yang berbeda dari masing-masing pembelajar. Demikian juga dengan adanya kurikulum muatan tokal, yang antara daerah yang satu dengan yang lain berbeda, adalah dalam rangka menampung aspirasi dan cita-cita yang berbeda antara, pembelajar didaerah satu dengan daerah lainnya. Persoalannya adalah, apakah memang benar bahwa dalam pemilihan jurusan tersebut memang benar-benar sesuai dengan cita-cita dan aspirasi pembelajar ? mengingat yang menjadi pertimbangan dalam penjurusan tersebut tidak semata-mata cita-cita dan aspirasi melainkan banyak hal lain seperti daya tampung masing-masing jurusan, tersedia tidaknya prasarana dan sarana.

Aspirasi / cita-cita dapat dikembangkan dalam belajar pembelajaran, dengan beberapa langkah sebagai berikut :

  1. Kenalilah aspirasi dan cita-cita pembelajar. Pengenalan ini dapat dilakukan dengan melalm penyebaran daftar isian yang dapat memuat sejumlah cita-cita atau aspirasi pembelajar. Dari sejumlah aspirasi atau cita-cita tersebut, pembelajar masih diliarapkan anak  merangking dari yang paling diminaati sampai dengan yang paling tidak diminati. Pengenalan aspirasi ini dapat dilakukan dengan mengadakan tes minat kepada pembelajar. Dengan tes minat, akan diketabui jenis-jenis pekerjaan apa dimasa depan yang paling diminati dan menjadi cita-cita pembelajar.
  2. Hasil pengenalan atas cita-cita aspirasi tersebut dapat dikomunikasikan kepada siswa dan orangmanya. Orang tua ini patut juga diberi tahu, agar tidak memaksakan kehendaknya kepada putra-putrinya, karena mungkin pembelajar tersebut mempunyai cita-cita atau aspirasi yang berbeda dengan orangtuanya.
  3. Sediakan program-program yang dapat mengembanglum aspirasi dan cita cita tersebut. Setelah program-program tersebut disediakan, barulah para pembelajar diberi kesempatan untuk mengambil program yang sesuai dengan aspirasi dan cita-citanya. Persoalannya hanyalah, apakah mungkin hat demikian dilakukan disekolah-sekolah kita mengingat kurikulum yang tersentralkan dari pusat ?

Jenis Motivasi Yang Didasarkan Motif Primer Dan Sekunder Motivasi dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu :

1. Motivasi Primer

Motivasi primer adalah motivasi yang didasarkan pada motif-motif dasar. Motif-motif dasar tersebut umumnya berasal dari segi biologis atau jasmani manusia. Manusia adalah makluk berjasmani, sehingga perilakunya terpengaruh oleh tasting atau kebutuhan jasmaninya.

Ahli lain, Freud berpendapat bahwa insting memiliki empat ciri, yaitu tekanan, sasaran, objek dan sumber.tekanan adalah kekuatan yang memotivasi individu amok bertingkah laku. Semakin besar energi dalana insting, maka tekanan terhadap individu semakin besar. Sasaran insting adalah kepuasan atau kesenangan. Kepuasan tercapai, bila tekanan energi dalam insting berkurang. Sebagai ilustrasi, keinginan makan berkurang bila individu masih kenyang. Objek insting adalah hal-hal yang mermaskan insting. Hal-hal yang memutuskan insting tersebut dapat berasal dari luar individu atau dari dalam individu. Adapun sumber insting adalah keadaan kejasmaniah individu. Segenap insting manusia dapat di bedakan menjadi dua jenis, yaitu insting kehidupan (life instinest ) dan insting kematian (death instinest ). Insting kehidupan terdiri dari insting yang bertujuan memelihara kelangsungan hidup. lnsting kehidupan tersebut berupa makan. minum, istirahat dan memelihara keturunan. Insting kematian tertuju pada penghancuran seperti, merusak, menganiaya, atau membunuh orang lain atau diri sendiri. Menurut Freud energi bekerja memelihara keseimbangan fisik. Insting bekerja seumur hidup. Yang mengalami perubahan adalah cara pemuasan atau objek pemuasan.

2. Motivasi Sekunder

Motivasi sekunder adalah motivasi yang dipelajari. Hal ini berbeda dengan motivasi primer. Sebagai ilusirasi, orang yang  lapar akan tertarik pada makanan tanpa berpikir. Untuk memperoleh makanan tersebut orang harus bekerja terlebih dahulu. Agar dapat bekerja dengan baik, orang harus belajar bekerja. Bekerja dengan haik merupakan motivasi sekunder, bila orang bekerja dengan baik, maka ia memperoleh gaji berupa uang. Uang tersebut berupa penguat motivasi sekunder, Uang merupakan penguat unnum. Setelah in bekerja dengan baik maka ia dapat membeli makanan untuk menghilangkan rasa lapar.

Menurut beberapa ahli, manusia adalah makluk sosial. Perilakunya tidak hanya terpengaruh oleh faktor biologis saja. Tetapi juga faktor-faktor sosial. Perilaku manusia terpengaruh oleh tiga komponen penting seperti afektif, koqnitif, dan konatif.             Komponen afektif adalah aspek emosional. komponen ini terdiri dari motif sosial, sikap dan emosi. Komponen koqnitif adalah aspek intelektual yang terkait dengan pengetahuan. Komponan konatif adalah terkait dengan kemauan dan kebiasaan bertindak.

Perilaku motivasi sekunder juga terpengaruh oleh adanya sikap. Sikap adalah suatu motif yang dipelajari. Ciri-ciri sikap, yakni :

-          merupakan kecenderungan berpikir, merasa, kemudian bertindak

-          memiliki daya dorong bertindak

-          relatif bersikap tetap

-          kecenderungan melakukan penilaian

-          dapat timbul dari dari pengalaman, dapat dipelajari atau berubah.

Perilaku juga terpengaruh oleh emosi. Emosi menunjukkan adanya sejenis kegoncangan seseorang. Kegoncangan tersebut disertai proses jasmani, perilaku dan kesadaran. Emosi memiliki fungsi sebagai pembangkit tenaga, pemberi informasi pada oranglain, pembawa pesan dalam hubungan dengan orang lain, sumber informasi tentang diri seseorang.

Perilaku juga terpengaruh oleh adanya pengetahuan yang dipercaya. Pengetahuan yang dipercaya tersebut adakalanya berdasarkan akal, ataupun tak berdasar akal sehat pengetahuan tersebut dapat mendorong terjadinya perilaku.

About these ads

Posted on 23 Februari 2011, in Belajar dan Pembelajaran. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. terimakasih ya…….
    sudah membantu,

  1. Ping-balik: psikologi belajar 2 : motivasi belajar | rifaoeymccool

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: