Arsip Kategori: Belajar dan Pembelajaran

Landasan Pengembangan Kurikulum

Komponen-Komponen Kurikulum

Seperti dikemukakan oleh Pratt diatas, kurikulum adalah sebuah sistem, sebagai suatu sistem, ia pasti mempunyai komponen-komponen atau bagian-bagian yang saling mendukung dan membentuk satu kesatuan yang terpisahkan. Komponen-komponen dalam sebuah sistem bersifat harmonis, tidak saling bertentangan. Kurikulum sebagai suatu program pendidikan yang direncanakan dan akan direncanakan mempunyai loomponen-komponen pokok tujuan, isi, organisasi dan stratei (Winarno Surahmad: 9).

 

 

  1. 1. Tujuan

Kurikulum adalah suatu program yang dimaksudkan untuk mencapai sejumlah tujuan pendidikan. Tujuan itulah yang dijadikan arah atau acuan segala kegiatan pendidikan yang dijalankan. Berhasil atau tidaknya program pengajaran di sekolah dapat diukur dari seberapa jauh dan banyaknya tujuan-tujuan tersebut. Dalam setiap kurikulum sekolah pasti dcantumkan tujuan-tujuan pendidikan yang akan atau harus dicapai oleh sekolah yang bersangkutan. Ada dua tujuan yang terdapat dalam sebuah kurikulum sekolah yaitu sebagai berikut :

  1. Tujuan Pendidikan yang harus dicapai secara keseluruhan

Tujuan ini biasanya meliputi aspek-aspek pengetalman. keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang diharapkan oleh para lulusan sekolah yang bersangkutan. Itulah sebabnya tujuan ini disebut tujuan institusional atau kelembagaan. Didalam sebuah kurikulum sekolah, terdapat dua macam Tujuan institusional umum dan khusus yang keduanya selalu menunjukkan keinstitusionalannya. (kedua tujuan ini biasanya dkantumkan dalam Buku 1 suatu kurikulum sekolah).

  1. Tujuan yang ingin dicapai oleh setiap bidang studi

Tujuan ini adalah penjabaran tujuan institusional diatas yang meliputi tujuan kurikulum dan instuksional yang terdapat dalam setiap GBYP (Garis-garis Besar Program Pengajaran) tiap bidang studi. Baik tujuan kurikulum maupun instruksional juga meneakup aspek-aspek pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang dihuapkan dimiliki anak setelah mempelajari tiap bidang studi atan pokok bahasan dalam proses pengajaran.

 

  1. 2. Isi

Isi program kurikulum adalah segala sesuatu yarag diberikan kepada anak dalam kegiatan belajar mengajar dalam rangka mencapai tujuan. Isi kurikulum meliputi jenis-jenis bidang studi yang diajarkan dan isi program masing-masing bidang studi tersebut. Jenis-jenis bidang studi ditentukan atas dasar tujuan institusional sekolah yang bersangkutan. Jadi, ia berdasarkan kriteria apa suatu bidang studi menopang tujuan int atau tidak. Berdasarkan kriteria itu, maka jenis bidang studi yang diberikan pada suatu sekolah, misalnya SMA, akan berbeda dengan sekolah yang lain, misalnya SPG.

Isi program suatu bidang studi yang diajarkan sebenamya adalah isi kurikulum itu sendiri, atau ada juga yang menyebutnya sebagai silabus. Silabus biasanya dijabarkan ke dalam bentuk pokok-pokok bahasan dan sub-sub pokok bahasan, serta uraian bahan pelajaran. Uraian bahan pelajaran inilah yang dijadikan dasar pengambilan bahan dalam setiap kegiatan belajar mengajar di kelas oleh pihak guru, Penentuan pokok-pokok dan sub-sub pokes bahasan didasarkan pada tujuan instruksional.

 

  1. 3. Organisasi

Organisasi kurikulum adalah struktur program kurikulum yang berupa kerangka program-program pengajaran yang akan disampaikan kepada siswa. Organisasi kurikulum dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu struktur horizontal dan struktur vertikal. Struktur horizontal berhubungan dengan masalah pengorganisasian kurikulum dalam bentuk penyusunan bahan-bahan pengajaran yang akan disampaikan. Bentuk-bentuk penyusunan mata-mata pelajaran itu dapat secara terpisah (sparate subject), kelompok-kelompok mata pelajaran (correlated), atau penyatuan seluruh pelajaran dikembangkan di sekolah, yaitu misalnya program pendidikan moupun, akademis, keguruan keterampilan dan lain-lain.

Struktur vertikal berhubungan dengan masalah pelaksanaan kurikulum di sekolah. MisaInya apakah kurikulum dilaksanakan dengan sistem kelas, tanpa kelas atau gabungan antara keduanya dengan sistem unit waktu semester atau catur wulan. Termasuk dalam hal ini adalah Juga masalah pembagian waktu untuk masing-masing bidang studi untuk setiap tingkatan. Misalnya bidang studi Bahasa Indonesia, diberikan selama berapa jam tiap minggu pada SMP/SMA kelas I, II dan Ill. Demikian pula halnya dengan bidang-bidang studi yang lain.

  1. 4. Stretegi

Dengan komponen strategi dimaksudkan strategi pelaksanaam kurikulum di sekolah. Masalah strategi pelaksana itu dapat dilihat dalam cara yang ditempuh dalam melaksanakan pengajaran, penilaian, bimbingan dan konseling, pengaturan kegiatan sekolah sceara keseluruhan, pemilihan metode pengajaran, alat atau media pengajaran dan sebagainya. Dalam pelaksanaan pengajaran misalnya, dilakukan dengan pendekatan PPSI (berlaku untuk setiap bidang studi) atau dengan cara lain seperti sistem pengajaran modul, paket pelajaran dan sebagainya

 

KOMPONEN KURIKULUM

(Drs. Hendyat Soetopo, MYd dan Drs. Wasty Soemanto, MYd dalam bukunya Pembinaan don Pengembangan Kurikulum Sekolah)

  1. Komponen Tujuan

Tentang komponen tujuan ini kita akan mengenal tingkat-tingkat Tujuan yang satu dengan yang lain merupakan satu kesatuan dalam mewujudkan cita-cita pendidikan dalam konteks pembangunan manusia Indonesia.

Seperti telah dikemukakan dalam bagian yang Ialu, kurikulum merupakan suatu program untuk mencapai sejumlah tujuan pendidikan tertentu. Oleh karena itu, dalam kurikulum suatu sekolah telah terkandung tujuan-tujuan pendidikan yang ingin dicapai melalm sekolah yang bersangkutan.

Ada dua jenis tujuan yang terkandung di dalam kurikulum suatu   sekolah :

  1. Tujuan yang ingin dicapai sekolah secara keseluruhan.

Selaku lembaga pendidikan setiap, setiap sekolah mempunyai sejumlah tujuan yang ingin dicapai. Tujuan-tujuan tersebut biasanya digambarkan dalam bentuk pengetahuan, ketarampilan dan sikap yang kita harapkan dimiliki murid setelah mereka menyelesaikan seluruh program pendidikan dari sekolah tersebut.

Tujuan dari sekolah tersebut kita namakan tujuan institusional atau tujuan lembaga, misainya tujuan SD, tujuan SMP, tujuan SPG dart seterusnya. Atas dasar tujuan-tujuan institusional itulah kemudian ditetapkan bidangbidang studi atau bidnag pengajuan yang akan diajukan pada sekolah yang bersangkutan.

  1. Tujuan yang ingin dicapai dalam setiap bidang studi

Disamping tujuan institusional yang ingin dicapai oleh sekolah secara keseluruhan, setiap bidang studi dalam kurikulum suatu sekolah juga mempunyai sejumlah tujuan yang ingin dicapainya. Tujuan-tujuan inipun digambarkan dalam berruk pengetahuan, keterampilan dan sikap-sikap yang kita harapkan dinliliki oleh murid setelah mempelajari suatu bidang studi pada suatu sekolah tertentu. Oleh karena itu ada tujuan IPA dan SD tujuan matematika di SMP, tujuan ilmu kegurun di SPG dan sebagainya.

Tujuan-tujuan setiap bidang studi dalam kurikulum suatu sekolah tentunya ada yang kita sebut tujuan kurikuler dan ada pula yang kita sebut tujuan instruksional, dimna tujuan instruksional merupakan penjabaran lebih lanjut dari tujuan kurikuler. Atas dasar tujuan kurikuler dan tujuan instruksional inilah kemudian ditetapkan bahan pengajaran yang diajarkan dalam setiap bidang studi pada suatu sekolah tertentu.

Dalam hubungannya dengan pembahasan tujuan pendidikan ini berikut diulas tentang tujuan pendidikan secara hirarkis sesuai dengan urutan tujuan yang ada di Indonesia.

Urutan tujuan pendidikan tersebut diawali dari tujuan Pendidikan Nasional, kemudia Tujuan Institusional, Tujuan Kurikuler sampai pada tujuan Instruksional.

 

Tujuan Pendidikan Nasional

Tujuan Pendidikan Nasional adalah merupakan tujuan pendidikan yang tertinggi dalam kegiatan di negara kita. Tujuan ini sangat umum dan sangat ideal, yang penggambarannya disesuaikan dengan falsafah negara yaitu Pancasila.

Selanjutnya dalam GBHN telah digariskan tujuan Pendidikan Nasional adalah :

Tujuan Pendidikan Nasional adalah membentuk manusia pembangunan sehat jasmani dan rohaninya, memiliki pengetahuan dan keterampilan, dapat mengembangkan kreativitas dan tanggung jawab dalam menyuburkan sikap demokrasi dan penuh tanggung rasa, dapat mengembangkan kecerdasan yang tinggi dan disertai budi pekerti yang luhur, mencintai bangsanya dan sesama manusia dongan ketentuan yang temaktub dalam IJUD 1945”

Secara ekspilisit maka tujuan pendidikan nasional itu dapat dijabarkan sebagai membentuk manusia yang Pancasilais;

-          Scehat jasmani dan rohani ;

-          Berpengetahuan dan berketerampilan

-          Bertanggung jawab

-          Demokrasi;

-          Tanggung rasa

-          Cerdas ;

-          Berbudi pekerti yang luhur ; dan

-          Mencintai bangsa dan sesamanya.

 

Tujuan Institusional

Sistem persekolahan di negara kita adalah berjenjang yang melembaga pada suatu tingkatan. Untuk itu maka pada tiap lembaga hendaknya juga digariskan adanya suatu tujuan pendidikan yang kita sebut tujuan institusional. Selanjutnya kita akan mengenal tujuan institusional SD, SMP, SMA, SKKA, STM, SPG dan sebagainya.

Tentu saja tujuan institusional itu hendaknya menceminkan dan menggambarkan tujuan pendidikan nasional yang akan dicapai melalui lembaga pendidikan itu. Agar tidak tercapai penyimpangan maka tiap tujuan institusional harus didahului dengan pengertian pendidikan, dasar pendidikan dan tujuan pendidikan nasional. Hal ini disamping untuk menghindari penyimpangan juga untuk menghindari salah penafsiran yang emungkinkan tidak tercapainya Tujuan pembangunan dan pendidikan nasional.

Sebagai gambaran maka dapat kita kemukakan kerangka tujuan pendidikan di SPG (Sekolah Pendidikan Guru) sebagai lembaga Pendidikan Guru yaitu

  1. Pengetian Pendidikan
  2. Dasar Pendidikan
  3. Tujuan Pendidikan Nasional
  4. Tujuan Umum Pendidikan Sekolah Pendidikan Guru.

Tujuan Khusus Sekolah Pendidikan Guru. Dalam hubungan ini kita akan mencoba memberikan gambaran tentang tujuan umum dan khusus pendidikan di Sekolah Pendidikan Guru :

(1)   Tujuan Unrum Pendidikan Sekolah Pendidikan Guru; ialah agar lulusannya:

  1. Sehat jasmani dan rohani,
  2. Menjadi warga negara Indonesia yang bemoral Pancasila yang memiliki sifat-sifat yang bark dan konstruktif sebagai warga masyarakat, serta menerima dan percaya kepada kaidah-kaidah dan cara-cara pengalaman agama masing-masing baik dalam peribadatan maupun kehidupan lainnya.
  3. Memiliki pengetahun, keterampilan dan nilai serta sikap yang diperlukan untuk:
  4. Melaksanakan tugasnya secara efektif sebagai guru di Lembaga Pendidikan Dasar yaitu SD atau TK.
  5. Mengembangkan dan mengamalkan ilmu dan profesinya.
  6. Menggunakan pronsip pendidikan seumur hidup di sekolah maupun di luar sekolah sebagai alat utama bagi kemajuan pribadi dan masyarakat.
  7. Mengembangkan dan membina kepemimpinan yang demokratis yang bertanggung jawab dalam interaksi sosial dengan murid-murid daur anak-anak.
  8. Menggunakan prinsip kemanusiaan, demokrasi dan keadilan sosial dalam kehidupan, pergaulan sekolah dan keluarga secara bertanggung jawab.

(2)   Tujuan Khusus Pendidikan Sekolah Pendidikan Guru ialah agar lulusannya :

  1. Memiliki pengetahuan yang diperlukan untuk kepentingan dirinya dan atau untuk melaksanakan program pengajaran di SI), dalam bidang :
  2. Agama/Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Malia Esa yang dianutnya.
  3. Dasar pembinaan Moral Pancasila sesuai dengan ketentuan yang termaktub dalam UUD 1945.
  4. Perkembangan dan perjuangan bangsa Indonesia dan bangsa-bangsa di dunia pada umumnya.
  5. Bahasa Indonesia yang tepat dan baik.
  6. O1ah raga, kesehatan dan rekreasi.
  7. Bahasa Inggris yang cukup untuk memahami uraian yang sederhana.
  8. Matematika
  9. Ilmar Pengetahun Alam
  10. Ilmu Pengetahuan Sosial
  11. Kesenian yang meliputi seni rupa, seni musik dan atau seni drama dan tari.
  12. Pendidikan keterampilan yang meliputi jasa, kerajinan dan teknik, Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK), pertaman, peternakan dan atau perikanan.
  13. Ilmu Keguruan dan meliputi pedagogik, dasar dan tujuan pendidikan nasional Indonesia, dasar psikologis dan interaksi belajar mengajar, psikologis pendidikan, psikologis perkembangan, teknik penilaian pendidikan, bimbingan dan penyuluhan, metodik dan didaktik umum, alat bantu dan komunikasi pendidikan, metodik khusus untuk tiap bidang studi yang diajukan pendidikan dasar dan pendidikan dan pengembangan.
    1. Memiliki keterampilan yang diperlukan untuk
    2. Menjalankan ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa.
    3. Berpartisipasi dalam masyarakat sebagai warga negara Indonesia yang bermoral Pancasila dan sehat.
    4. Merencanakan dan melaksanakan interaksi edukatif dengan murid dalam mengerjakan bidang pengajaran yang diberikan di pendidikan dasar yang meliputi kemampuan menyusun program pengajaran. kemampuan melaksanakan program yang telah disusun dengan menggunakan metode teknik, dan alat yang sesuai kemampuan mengidentifikasikan kesulitan-kesulitan dan memberikan bimbingan kepada murid yang menghadapi kesulitun.
    5. Memimpin dan melaksanakan tugas administrasi sekolah.
    6. Berinteraksi dengan murid, masyarakat dan kalangan dunia pendidikan.
    7. Mengarang dan menulis.
    8. Melaksanakan kegiatan dalam memanfaatkan sumber lingkungan.
    9. Melaksanakan penelitin sederhana.
      1. Memiliki nilai dan sikap yang meliputi
      2. Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
      3. Cinta kasih kepada anak, bersedia untuk menyesuaikan diri kepada berbagai kepada keadaan anak dan memperlakukan anak secara obyektif.
      4. Menghargai seni budaya bangsa sendiri, dan selektif terhadap pengaruh kebudayaan asing.
      5. Bersedia untuk saling mengoreksi cara-cara mengajar yang bisa dilakukan.
      6. Rendah hati, terbuka, peka terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, terruama dalam hubungannya dengan profesi keguruan dan pendidikan, bercita-cita untuk maju, bersedia untuk bertindak sebagai perintis, percaya kepada diri sendiri.
      7. Disiplin, berdedikasi, loyal dan bertanggung jawab kepada tugas dan mengutamakan prestasi.
      8. Makarya dan efisien.
      9. Hidup sehat.
      10. Mempunyai kebiasaan membaca dan belajar dengan baik.

 

Tujuan Kurikuler

Suatu lembaga pendidikan dalam melaksanakan kegiatan pendidikan akan memberikan sejumlah isi pengajaran yang disusun sedemikian rupa sehingga merupakan sejumlah pengalaman belajar yang menunjang tercapainya tujuan Pendidikan. Dalam hal ini dapatlah dirumuskan babwa yang dimaksud dengan tujuan yang akan dicapai setelah si anak mengikuti sejumiah program pengajaran yang diberikan dalam lembaga pendidikan itu. Dalam hal ini maka menurut SPG ditetapkan sejumlah 11 (sebelas) tujuan kurikuler yang barus dicaapai oleh seseorang anak/siswa setelah menamatkan pendidikan di SPG. Tentu saja karena ini merupakan hirarki dari tujuan institusional dan tujuan pendidikan nasional maka tujuan kurikuler ini harus mencerminkan dan mengambarkan tujuan ilistitusional dan tujuan pendidikan nasional itu. Atau dengan kata lain maka penjabaran dari tujuan institusional dan tujuan pendidikan harus nampak pada tujuan kurikuler ini.

 

Tujuan Instruksional

Tujuan instruksional ini merupakan penjabaran yang terakhir dari tujuan-tujuan yang terdahulu dan lebih atas. Tujuan ini diharapkan dapat tercapai pada saat terjadinya proses belajar mengajar secara langsung yang terjadi pada setiap hari. Dalam pelaksanaannya tujuan ini harus dirumuskan pada saat penyusunan atuan pelajaran.

Untuk tujuan instruksional im kita bedakan 2 (dua) jenis tujuan yaitu :

  1. Tujuan instruksional umum yang sudah dirumuskan didalam kurikuler.
  2. Tujuan Instruksional Khusus (TIK) untuk Tujuan ini perumusannya dilakukan oleh guru sendiri pada saat menyusun satuan pelajaran. Dalam tujuan ini diharapkan setelah anak menerima pelajaran terjadi perubahan tingkah laku yang nyata dan dapat diukur.

Guru dalam merumuskan tujuan ini hendaknya memperhatikan hal-hal ini yang merupakan syarat TIK :

  1. TIK hendaknya mengunakan istilah -istilah yang operasional misainya menuliskan, menyebutkan, menunjukan. menghitung, dan sebagainya, serta menghindari istilah-istilah yang non operasional misalnya mengetahui, memahami. menghargai, meyakini dan sebagainya.
  2. TIK hendaknya mempakan hasil belajar siswa.
  3. TIK hendaknya terwujud dalam tingkah laku yang spesifik. TIK hendaknya megandung hanya satu jenis tingkah laku.

 

  1. 2. Komponen Materi (Isi dan Struktur Program)

Isi Kurikulum

Sebagai mana kurikulum 1975 maka untuk kurikulum SPG yang berlaku saat berisi :

(1)     Pokok-pokok bahasan adalah merupakan perincian bidang pengajaran untuk dijadikab bahan pelajaran bagi para. siswa agar mencapai tujuan yang telah ditetapkan

(2)     Bahan pengajaran adalah mutan penyampaian pokok bahasan tersebut dari yang satu ke tahun pelajaran yang berikutnya, dari semester yang satu ke semester yang berikutnya

(3)     Sumber bahan yaitu bempa resources dimana proses belajar mengajar memperoleh sejumlah pengalaman belajar. Sumber ini dapat berupa tempat (museum, kantor, stasiun dan sebagainya), orang ( camat, kep. Desa, petani, sopir dan sebagainya), atau barang cetakan (buku, majalah, surat kabar, brosur dan sebagainya.)

(4)     Garis-garis besar program pengajaran (GBPP), adalah merupakan penjelasan terperinci dari setiap bidang pengajaran yang telah ditentukan pembagian dan penyebaran waktunya dalam seminggu, catur wulan, semester seperti yang diatur dalam struktur program kurikulum, dalam GBPP berisi:

(a)    Tujuan kurikululer

(b)   Tujuan instruksional

(c)    Pokok babasan/sub pokok bahasan

(d)   Bahan pengajaran

(e)    Sumber bahan.

 

Sruktur Program

Untuk struktur program ini jelasnya dapat dilihat pada lampiran. Program pendidikan (di SPG)

Program Pendidikan di SPG terdiri dari :

  1. Pendidikan untum meliputi pendidikan Agama, Pendidikan Moral Pancasila, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, o1ah Raga dan Kesehatan.
  2. Pendidikan Keguruan meliputi ilmu keguruan dan praktek keguruan.
  3. Pergajaran di SD/pendidikan spesialisasi/pembangunan meliputi IPS, Matematika, Pendidikan Kesenian, Pendidikan Keterampilan.

 

  1. 3. Koomponen Organisasi don Strategi

Disamping tujuan dan isi, setiap kurikulum mengandung unsur organisasi dan strategi.

  1. 1. Organisasi

Struktur (susunan) program suatu kurikulum mengenai apa yang disebut struktur horizontal dan struktur vertikal.

  1. Struktur Horizontal

Struktur horizontal suatut kurikulum berkenaan dengan apakah kurikulum im diorganisasikan dalam bentuk :

  1. Mata-mata pelajaran secara terpisah (subjec centered) misalnya : Biologi, Fisika, Sejarah, Ilmu bumi dan sebagainya.
  2. Kelompok-kelompok mata pelajaran yang kita sebut bidang studi (broadfield) misalnya IPS, IPA. Kesenian, Matematika dan sebagainya.
  3. Kesatuan program tanpa mengenai mata pelajam maupun bidang studi (integrated program).

Selanjutnya, dalam struktur horizontal tercakup pula jenis-jenis program yang dikembangkan dalam kurikulum tersebut, misalnya program pendidikan unnum, program pendidikan keguruan, program spesialisasi dan sebagainya.

  1. Struktur Vertikal

Struktur vertikal suatu kurikulum berkenaan dengan apakah kurikulum tersebut dilaksanakan melalui :

  1. Sistem kelas misalnya kelas l, II, III dan seterusnya dimana kenaikan kelas diadakan disetiap tahun secara serempak.
  2. Program tanpa kelas, dimana perpindahan dui suatu tingkat program ke tingkat program berikutnya dapat dilakukan setiap waktu tampa harus menunggu teman-teman yang lain.
  3. Kombinasi antara sistem A dan B.

Selanjumya, dalam struktur vertikal ini tercakup pula sistom unit waktu yang digunakan, misalnya apakah sistem semester atau catur wulan.

Akhirnya struktur program ini menyangkut pula masalah penjadwalan dan pembagian waktu untuk masing-masing bidang studi, isi kurikulum pada setiap tingkat atau kelas.

  1. 2. Strategi

Strategi pelaksanaan suatu kurikulum tergambar dari cara yang ditempuh didalam melaksanakan pengajaran, dan didalam mengadakan penilaian, cara didalam melaksanakan bimbingan dan penyuluhan dan cara dalam mengatur kegiatan sekolah secara keseluruhan.

Cara dalam melaksanakan pengajaran mencakup baik cara yang berlaku secara umum maupun cata dalam menyajikan setiap bidang studi, termasuk cara (metode) mengajar dan pelajaran yang digunakan.

Komponen metode ini menyangkut komponen metode atau upaya apa saja yang dipakai agar tujuan pendidikan dapat tercapai. Dalam hal ini tentu saja metode yang dipergunakan hendaknya relevan terhadap tujuan yang ditetapkan sebelumnnya, dengan mempertimbangkan kemampuan guru, lingkungan anak serta sarana pendidikan yang ada. Dalam pelaksanaannya tidak ada satu metode yang baik untuk segala tujuan, atau dengan kata lain kita harus memperhatikan tujuan dan situasi, karena suatu metode cocok untuk mencapai suam tujuan akan tetapi belum tentu cocok untuk mencapai suatu tujuan yang lain. Untuk itu guru harus mengetahm kapan ia harus menggunakan metode mengingat sifat-sifat polivalent dan polipragmatis dari suatu metode.

Dengan polipragmatis dimaksud adalah penggunaan satu metode untuk mencapai tujuan lebih dari satu tujuan; sedang polivalent adalah penggunaan lebih dari satu metode untuk mencapai satu tujuan. Dalam penympaian seperti kurikulum yang berIalw niisalnya (kurikulum 1975) kurikulum SPH juga menggunakan pendekatan PPSI yang dikembangkan melalui satuan pelajaran dan modul. Dengan metode ini proses pengajaran (belajar-mengajar) dipandang sebagai suaw sistem. Adapun macam-macam metode dapatlah kita kemukakan sebagai contoh metode ceramah, tanya jawab, demonstrasi, eksperimen, pemberian tugas, karyawisata, sosiodrama, bermain peranan, kerja kelompok diskusi, simposium, seminar dan sebagainya.

 

  1. 4. Komponen Sarana dalam Kurikulum Lembaga Pendidikan Guru (SPG) meliputi
  2. Sarana personal yang terdin dan
    1. Guru
    2. Tenaga edukatif yang tidak mengajw seperti konselon
    3. Tenaga teknis non edukatif misaInya tenaga tata usaha.
  3. Sarana material yang terdiri dari

1)      Bahan instruksional dalam bentuk bahan instruksional, teksbook, alat atau media pendidikan, sumber yang menyediakan bahan instruksional atau pengalaman belajar dan sebagainya.

2)      Sarana fisik yang terdin dari gedung sekolah, kantor, laboratorium, lapangan batsman sekolah dan sebagainya.

3)      Biaya operasional yaitu tersedianya biaya dan dana untuk penyelengguaan pendidikan.

  1. Sarana Kepemimpinan

Sarana kepemimpinam ini akan memberi dukungan dan pengamanan pelaksanaan, serta member! bimbingan. penggunaan dan menyempurnakan program pendidikan.

  1. Sarana Administrasi

Pendidikan administratif disini dapat disebutKan sebagai

-          Pedoman Khusus Bidang Pengajaran

-          Pedoman Penyusunan Sawn Pelajaran

-          Pedoman Praktek Keguruan

-          Pedoman Bimbingan Siswa

-          Pedoman Administrasi Dan Supervisi

 

  1. Komponen Evalusasi

Pendidikan adalah sebagian dari keperluan manusia. Sekolahpun mempalari keperluan dari masyarakat. Untuk itu maka sekolah termasuk juga didalamnya termasuk juga harus peka terhadap perubahan-pembahan yang terjadi di masyuakat. Oleh karena itu kurikulum sebagai bahan konsumsi dari anal didik dm sekaligus juga konsumsi bagi masywakat juga harus dinilai terus menems serta menyclums terhadap bahan atau program pengajuan. Disamping itu penilaian terhadap kurikulum dimaksudkan juga sebagai feedback terhadap tujuan, materi metode dan sarana dalam rangka membina dan memperkembangkan kurikulum lebih lanjut. Sedangkan penilaian dapat dilakukan oleh semua pihak baik dari kalangan masyarakat luas maupun dari kalangan petugas-petugas pendidik

 

Fungsi Kurikulum

Setiap lembaga pendidikan formal maupun nonfomal dalam penyelenggaraan kegiatan sehari-harinya berlandaskan kurikulum-kurikulum itu sendiri dalam hal ini dapat berupa : (1). Rancangan kurikulum, yaitu buku kurikulum suatu lembaga pendidikan; (2) Pelaksanann kurikulum, yaitu proses pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan ; dan (3). Evaluasi kurikulum, yaitu penilaian atau penelitian basil-hasil pendidikan.

Dengan lingkup pendidikan formal. kegiatan merancang melaksanakan dan menitai kurikulum tersebut, yaitu yang dimaksudkan untuk mencapai tujuan pendidikan, dilaksanakan sebagai program pengajaran.

Berbicara masalah fungsi kurikulum kita dapat meninjaunya dari tiga segi, yaitu fungsi bagi sekolah yang bersangkutan, bagi sekolah pada tingkat diatasnya dan fungsi bagi masyarakat (Winamo Surahmad ; 6).

1. Fungsi bagi sekolah yang berungkutan

Fungsi kurikulum bagi sekolah yang bersangkutan ini paling tidak dapat disebutkan dua macam. Pertama, sebagai alat untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan yang diinginkan. Manifestasi kurikulum dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah adalah berupa program pengajaran. Program pengajaran itu sendiri merupakan suatu sistem yang terdiri dari berbagai komponen yang kesemuanya dimaksudkan sebagai uapaya untuk mencapai tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan yang akan dicapai tersebut disusun secara berjenjang mulai dart tujuan pendidikan yang bersifat nasional sampai tujuan instruksional. Jika tujuan instruksional tercapai (hasilnya langsung dapat diukur melalui kegiatan belajar mengajar di kelas) pada gilirannya akan tercapai pula tujuan-tujuan pada jenjang diatasnya. Setiap kurikulum sekolah pasti didalamnya tereantum tujuan-tujuan pendidikan yang akan atau harus dicapai melalui kegiatan pengajaran.

Kedua, kurikulum dijadikan pedoman untuk mengatur kegiatn-kegiatan pendidikan yang dilaksanakan di sekolah. Dalam pelaksanaan pengajaran misalnya, telah ditentukan macam-macam bidang studi, alokasi waktu, pokok bahasan atau materi pengajamn untuk tiap semester, sumber bahan, metode atau cara pengajaran, alat dan media pengajaran yang diperlukan. Disamping itu. kurikulum juga mengatur hal-hal yang berhubungan dengan jenis program cara penyelenggaraan, strategi pelaksanaan, penanggung jawab, sua dan prasarana dan sebagainya.

2. Fungsi bagi sekolah tingkat diatasnya

Dalam hal ini kurikulum dapat untuk mengontrol atau memelihara keseimbangan proses pendidikan. Dengan mengetahui kurikulum sekolah pada tingkat tertentu, maka kurikulum pada tingkat diatasnya dapat mengadakan penyesuaian Misalnya saja, jika suatu bidang studi telah diberikan pada kurikulum sekolah ditingkat bawahnya, harus dipertimbangkan lagi pemilihannya pada kurikulum, sekolah tingkatan diatasnya terutama dalam hal pemulihan bahan pengajaran. Penyesuaian bahan tersebut dimaksudkan untuk menghindari keterulangan penyampaian yang bisa berakibat pemborosan waktu dan yang lebih penting lagi adalah untuk menjaga kesinambungan bahan pengajaran itu.

Disamping itu, terdapat juga kurikulum yang berfungsi untuk menyiapkan tenaga pengajar. Bila satu sekolah atau lembaga pendidikan bertujuan menghasilkan tenaga guru (LPTK),. Maka lembaga tersebut harus mengetahui kurikulum sekolah pada tingkat dibawahnya tempat calon guru yang dipersiapkan itu akan mengaju. Misalnya murid SPG harus mengetabui kurikulum SD, mahasiswa IKIP/FKG harus menguasai kurikulum kurikulum SMTP dan SMTA. Jika di SD, SMP dan SMA kegiatw pengajaran disampaikan dengan sistem PPSI, maka sekolah-sekolah yang bertugas mengadakan guru untuk sekolah-sekolah tersebut harus membekali calon-calonnya dengan kemampuan memtruat PPSI.

3. Fungsi bagi Masyarakat

Padatamatan sekolah memang dipersiapkan untuk terjun dimasyarakat atau tugasnya untuk bekerja sesuai dengan keterampilan profesi yang dimilikinya. Oleh karena itu, kurikulum sekolah haruslah mengetahui atau mencerminkan hal-hal yang menjadi kebutuhan masyarakat atau para pemakai keluaran sekolah. Untuk keperluan itu perlu ada kerja sama antara piliak sekolah dengan pihak luar dalam hal pemberrahan kurikulum yang diharapkan. Dengan demikian, masyarakat atau para pemakai lulusan sekolah dapat memberikan bantuan, kritik atau saran-saran yang berguna bagi penyempumaan program pendidikan di sekolah.

Dewasa ini kesesuaian antara program kurikulum dengan kebutuhan masyarakat harus benar-benar diusahakan. Hal itu mengingat seringnya terjadi kenyataan balwa lulusan selsolah halum siap pakai atau tidak sesuai dengan tenaga yang dibutuhkan dalm lapangan pekerjaan. Akibatnya, walau semakin menumpuk tenaga kerja yang ada, kita tak dapat mengisi lapangan pekerjaan yang tersedia karena tidak memiliki keterampilan atau keterampilan yang dimilikinya tidak sesuai dengan yang dibutuhkan pada lapangan pekerjaan. Untuk mengatasi kesenjangan tersebut, ada seorang tokoh pendidikan yang mengemukakan agar sekolah tingluat SD sudah dibuat menjadi dua jalur, yaitu jalur akademis (dipersiapkan untuk melanjutkan sekolah) dan jalur vokasional (dipersiapkan untuk segera bekerja). Hal itu berdasarkan kenyataan penelitian bahwa masih sebagian besar anak tamatan SD yang tidak meneruskan pendidikan ke tingkat di atasnya.

Sering terjadi karena suatu tingkat keterampilan yang dibutuhkan dalam suatu tingkat pekerjaan, maka hal itu segera diajarkan di sekolah. Sebagai contoh hal yang berhubungan dengan keguruan misalnya dapat disebutkan perabekalan keterampilan menibuat satuan pelajaran. Pada waktu itu, yaitu permulann diterapkannya PPSI dalam sistem pengajaran di Indonesia sesuai dengan tuntutan kurikulum ’75, calon guru segera diberi keterampilan membuatnya (sekarang Model Perencanaan Pengajaran). Boleh dikatakan bahwa pembekalan atau pengajaran keterampilan tersebut semata-mata disebabkan tuntutan pekerjaan kelak.

Penyiapan keterampilan para tamatan sekolah untuk bakal terjun di masyarakat kerja, juga ditentukan oleh suatu misi sekolah, apakah ia sekolah umum atau kejuruan. Misi suatu sekolah apakah ia bertugas mempersiapkan tamatannya untuk meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi (jalur akademis), atau untuk bekerja (jaIur vokasional), atau untuk kedua-duanya, akan mewamai pendidikan keterampilan yang diajarkan oleh pibak sekolah yang bersangkutan. Dengan adanya hal itu, para pemakai lulusan sekolah tentunya sudah tanggap, Julusan dengan keterampilan mana (atau apa) yang mereka butuhkan dan itu harus dialamatkan pada sekolah yang sesui dengan misinya.

Dasar Pengembangan Kurikulum

Kurikulum dan pendidikan adalah dua hal yang erat berkaitan, tak dapat dipisahkan sama dengan yang lain. Sistem pendidikan yang dijalankan pada zaman modern ini tak mungkin tanpa melibatkan keikutsertaan kurikulum. Tak mungkin ada Kegiatan pendidikan tanpa kurikulum. Kebutuhan akan adanya aktivitas pendidikan selalu berarti kebutuhan adanya kurikulum. Dalam kurikulum itulah tersimpul segala sesuatu yang harus lijadikan pedoman bagi pelaksanaan pendidikan. Pemikiran tentang adanya kurikulum adalah setua dengan adanya sistem pendidikan itu sendiri.

Hubungan antara pendidikan dan kurikulum adalah hubungan antara tujuan dan isi pendidikan. Suatu tujuan, tegasnya tujuan pendidikan yang ingin dicapai, akan dapat terlaksana jika alat sarana, isi, atau tegasnya kurikulum yang dijadikan dasar acuan ini relevan. Artinya sesuai dengan tujuan pendidikan tersebut. Hal itu dapat diartikan bahwa kurikulum dapat membawa kita ke arah tercapainya tujuan pendidikan. karena kurikulum merupakan isi dan sarana untuk mencapai tujuan pendidikan, maka kurikulum berisi nilai-nilai atau cita-cita yang sesuai dengan pandangan hidup bangsa. Pada hakekatnya, proses pendidikan yang dijalankan adalah usaha untuk merealisasikan nilai-nilai dan ide-ide tersebut.

Pada dasamya tujuan pendidikan yang pokok (atau hakiki, esensial, prinsipil ini tetap karena ia berhubungan dengan sistem nilai atau pandangan hidup suatu bangsa. Akan tetapi. hal itu tidak berarti kurikulum pun harus statis, tak pernah mengalami perubahan. Kurikulum pun harus selalu dikembangkan sesuai dengan perkembangan kebutuhan masyarakat.. masyarakat yang dinamis akan selalu mengalami perkembangan, selalu menuntut adanya perubahan sesuai dengan perubahan zaman. Pada hakekamya, hal itupun dapat dipandang sebagai akibat sistem pendidikan yang dijalankan yang sudah diperhitungkan. Dengan kata lain adanya keadaan masyarakat yang dinamis dan terbukti terhadap adanya usaha-usaha pembaharuan sesuai dengan perkembangan zaman tersebut, merupakan keberhasilan sistem pendidikan, tanpa mengakibatkan berbagai faktor lain yang juga berperan.

Dalam banyak hal, kurikulum dapat dijadikan ukuran kualitas proses dan keluaran pendidikan yang dijalankan. Dalam suatu kurikulum sekolah telah tergambar tentang berbaga pengetahuan, keterampilan, sikap serta nilai-nilai yang diharapkan dimiliki oleh setiap lulusan suatu sekolah. Akan tetapi kurikulum bukanlah merupakan satu-satunya faktor penentu “kualitas seperti yang disarankan didalamnya. Masih terdapat berbagai faktor lain yang turut menunjang kualitas atau keberhasilan kegiatan pendidikan yang dijalankan. Misalnya saja masalah sarana dan prasarana, situasi dan kondisi lingkungan, kualitas guru sebagai pelaksana pendidikan dan sebagainya. Penting bagi guru adalah ia harus benar-benar menyadari peranannya sebag pelaksana pendidikan yang amat menentukan. Hal itu menunt kepadanya untuk memahami dan menguasai berbagai masalah pendidikan, antara lain masalah kurikulum.

3.1. Pengertian Kurikulum

3.1.1 Kurikulum Sebagai Jembatan Meraih Ijazah

Istilah “kurikulum” memiliki berbagai tafsiran yan dirumuskan oleh pakar-pakar dalam bidang pengembang kurikulum sejak dulu sampai dengan dewasa. ini. Tafsiran-tafsi tersebut berbeda-beda satu sama lainnya, sesuai dengan titik berat inti dan pandangan dari pakar bersangkutan. Istilah kurikulum berasal dari bahasa latin yakni “currculae”, artinya jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari. Pada waktu itu, pengerti kurikulum ialah jangka waktu pendidikan yang harus ditemp oleh siswa yang bertujuan untuk memperoleh Ijazah.

Dengan menempuh suatu kurikulum, siswa dapat memperoleh ijazah. Dalam hal ini, ijazah pada hakekatnya merupakan suatu bukti, bahwa siswa telah menempuh suatu Kurikulum yang berupa rencana pelajaran, sebagaimana halnya seorang pelari telah menempuh suatu jarak antara satu tempat ke tempat lainnya dan akhirnya mencapai finish. Dengan kata lain, suatu kurikulum dianggap sebagai jembatan yang sangat penting untuk mencapai titik akhir dari suatu perjalanan dan ditandai oleh perolehan suatu ijazah tertentu.

Pengertian Kurikulum

(Oleh Burhan Nurgiyantoro dalam bukunya Dasar-Dasar Pengembangan Karikalum Sekolah)

Istilah kurikulum semula berasal dari istilah yang dipergunakan dalam dunia taktik curere yang berarti “berlari’ . Istilah tersebut erat hubungannya dengan kata curier atau kurir yang berarti penghubung atau seseorang yang bertugas menyampaikan sesuatu kepada orang atau tempat lain. Seseorang kurir harus menempuh suatu perjalanan untuk mencapai tujuan, maka istilah kurikulum kemudian diartikan sebagai orang sebagai suatu jarak yang harus ditempuh (S. Nasution, 1980 : 5).

Dari istilah atletik kurikulum mengalami perpindahan arti kedunia pendidikan. Sebagai misal pengertian kurikulum seperti yang tercantum dalam Webster’s Intemational Dktionary ” .

Currculum ; Course ; a specified fixed course of study, is in a school or collage. as one leading to degree.

Kurikulum kemudian diartikan sebagai sejumlah mata pelajaran atau ilmu pengetalman yang ditempult atau dikuasai untuk mencapai suatu tingkat tertentu atau ijazah. Disamping itu, kurikulum juga diartikan sebagai suatu rencana yang disengaja dirancang untuk mencapai sejumlah tujuan pendidikan. Itulah sebabnya orang pada waktu lalu juga menyebut kurikulum dengan istilah “Rencana Pelajaran” yang merupakan terjemahan istilah Leerplan. Rencana pelajaran merupakan salah satu komponen dalam asas-asas didaktik yang harus dikuasai (atau paling tidak diketahui) oleh seorang guru atau calon guru.

Pengertian kurikulum sebagai yang tercantum dalam kamus Webster yang dikutip diatas, kiranya ada kesesuaiannya dengan perumusan yang dikemukakan oleh Stenhouse berikut : Currkulum is the planned conipesite effort of any school to guide pupil leaming to ward prederennined learning outcome (Larence Stenhouse, 1976 : 4).

Defenisi-defenisi kurikulum yang bersifat tradisional biasanya masih menampakkan adanya kecenderungan penekanan pada rencana pelajaran untuk menyampaikan mata-mata peiajaran (subject matter) kepada anak didik yang biasanya berisi kebudayaan. (hasil budidaya) masa lampau atau sejumlah ilmu pengetahuan. Anak yang berhasil melewati tahap ini akan atau herhak memperoleh ijazah. Kabudayaan atau sejumlah ilmu pengetahuan yang akan disampaikan tersebut bersumber pada buku-buku yang baik atau dianggap bermutu, sehingga kurikulum terutama dalam hal tujuan instruksional dan pemilihan bahan pengajaran lebih banyak ditentukan atau dipengaruhi oleh buku- buku tersebut.

Dihubungkan dengan kebutuhan pengalaman anak yang diharapkan terpenuhi melalui kegiatan belajar-mengajar sekolah, ternyata hal tersebut kurang menguntungkan karena ia membatasi pengalaman anak dalam proses belajar-mengajar kelas saja dan kurang inemperhatikan pengalaman-pengalaman lain yang diperoleh di luar kelas. Kurikulum yang bersi demikian. hanya menekankan aspek intelektual saja yang harus dikuasai siswa dan mengabaikan aspek-aspek yang lain yang juga sangat berpengaruh dalam perkembangan kejiwaan siswa. Kurikulum macam ini biasanya disebut Subject Centere Curiculum, yaitu kurikulum yang berpusat pada materi pelajaran Sejalan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat, pendirian tradisional mengenai kurikulum tersebut ditinggalkan orang karena dianggap terlalu sempit dan atau paling tidak orang berusaha mencari kemungkinan-kemungkinan baru, sebab pada kenyataanya pula seperti halnya dengan masalah-masalah lain, belum dapat meninggalkan (atau mungkin meninggalkan) sama sekali pendirian tradisonal. dasarkan pendirian diatas, yakni pendirian tradisional, kurikulum dijalankan (mau tak mau) berpusat pada guru atau but Teacher Centered Curiculum. Pandangan yang lebih kemudian ingin mengubah pandangan tersebut dengan memperhatikan minat dan kebutuhan anak, karena anaklah sebenamya yang menjadi subjek didik. Anak tak boleh hanya dipeerlakukan sebagai objek yang statis, melainkan harus diperhatikan kebutuhannya sesuai dengan perkembangan jiwanya karena itu, terjadilah pergeseran dalam dunia pendidikan dari suject atau teacher centered ke student centered. Kurikulum yang sesuai dengan pandangan terakhir itu disebut Child Centered curiculum. Hal itu terutama disebabkan oleh pengaruh penemuan-penemuan dibidang psikologi. khususnya psikologi kembangan.

Adanya pergeseran tentang kurikulum tersebut juga terlibat pada defenisi-defenisi kurikulum yang dikemukakan orang. misalnya menurut George A. Beauchamp (1964 : 4) kurikulum adalahah “It as all activities of children under the jurisdktion of the school”Dalam pengertian ini kurikulum mencakup segala kegiatan, yang disediakan dan direncanakan sekolah. Konsep lain misalnya mengatakan bahwa kurikulum tidak terbatas pada kegiatan saja, melainkan meneakup seluruh pengalaman yang diperoleh siswa, baik intelektual, emosional, sosial maupun pengalaman galaman yang lain.

Sebagai bahan perbandingan mengenai pengertian kriikulum menurut konsep batu, barikut dikemukakan lagi denisi-defenisi yang lain.

A sequence of potensial experiences it set up in the school for the purpose of disciplining children and yuouth in group ways of thingking and acting (Smith dalam Beauchamp : 5).

atau

Curriculum is all of the planned experiences providedby the school to assist the pupils in attaining children the designated learning outcomes to the best their abilitie (Neagly dalam Lawrence : 4).

David Pratt dalam Curriculum Design and Development (1980 : 4) mendefenisikan kurikulum secara sederhana, yaitu sebagai seperangkat organisasi pendidikan formal atau pusat-pusal latihan. Selanjumya ia membuat implikasi secara lebih ekplisit tentang defenisi yang dikemukakannya tersebut menjadi enam hal. yaitu :

  1. Kurikulum adalah suatu rencana atau intentions, ia mungkin hanya berupa perencanaan (mental) saja. tapi pada umumnya diwujudkan dalam bentuk tulisan.
  2. Kurikulum bukanlah kegiatan, melainkan perencanaan atau rancangan kegiatan;
  3. Kurikulum berisi berbagai macam hal seperti masalah apa yang harus dikembangkan pada diri siswa, evaluasi untuk menafsirkan hasil belajar, bahan dan peralatan yang dipergunakan, kualitas guru yang dituntut dan sebagainya.
  4. Kurikulum melibatkan maksud atau pendidikan formal, maka ia sengaja mempromosikan belajar dan menolak sifat rambang tanpa rencana, atau kegiatan tanpa belajar.
  5. Sebagai perangkat organisasi pendidikan, kurikulum menyatukan berbagai komponen seperti tujuan, isi. sistem penilaian dalam satu kesatuan yang tak terpisahkan. Atau dengan kata lain, kurikulum adalah sebuah sistem
  6. Pendidikan dan latihan dimaksudkan untuk menghindari kesalahpahaman yang terjadi jika suatu hal dilalaikan.

Defenisi diatas yang kemudian disertai dengan berbagai implikasinya, dapat memberikan gambaran yang lebih nyata tentang kurikulum, walau mungkin tidak sepenuhnya kita terima atau pahami. Misalnya saja dikatakan bahwa kurikulum mungkin hanya berupa perencanaan secara mental, dalam arti tidak diwujudkan dalam bentuk tertulis. Bagaimana jadinya jika ada (mungkin hanya sebagian) kurikulum yang tidak ditutis, tentunya akan mengundang berbagai permasalahan.

Kurikulum merupakan suatu yang dijadikan pedoman dalam segala kegiatan pendidikan yang dilakukan, termasuk kegiatan belajar mengajar di kelas. Dalam hal ini kita dapat memandang bahwa kurikulum merupakan suatu program yang didesain, direncanakan, dikembangkan dan akan dilaksanakan dalam situasi belajar mengajar yang sengaja diciptakan di sekolah. Atas dasar hal tersebut, kurikulum kemudian dapat didefenisikan sebagai suatu program pendidikan yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai sejumlah tujuan pendidikan tertentu (Winamo Surahmad, 1977 : 5).

Kiranya defenisi tersebut lebih sederhana dan jelas rumusannya. Pendidikan merupakan suatu pendidikan yang mempunyai tujuan-tujuan tertentu, merupakan program yang direncanakan, disusun dan diatur untuk kemudian dilaksanakan di sekolah melalui cara-cara yang telah ditentukan pula. Jika defenisi diatas diperbandingkan dengan defenisi-defenisi yang dikemukakan lebih dahulu, sebenamya tidak ada perbedaan yang prinsipil. Sentua defenisi yang ditunjuk sama-sama menyebut kurikulum sebagai rencana-rencana kegiatan yang berhubungan dengan kegiatan belajar yang dilakukan siswa yang tentunya dimaksudkan untuk memperoleh sejumlah pengalaman (baca tujuan) tertentu.

Dalam pembkaraan selanjurnya, jika disebut-sebut kurikulum pengertiannya menunjuk pada defenisi yang terakhir diatas.

3.1.2 Kurikulum Sebagai Materi Pelajaran

Kurikulum ialah sejumlah mata ajaran yang harus ditempuh dan dipelajari oleh siswa unluk mempoleh sejumlah pengetahuan. Mata ajaran dipandang sebagai pengalaman orang tua atau pengalaman orang-orang pandai masa yang telah disusun secara sistematis dan logis. Misalinya, pengalaman dan penemuan-penemuan masa lampau, maka diadakan pemilihan dan selanjutnya disusun secara sistematis, artinya menurut urutan tertentu, dan logis, artinya dapat diterima dan pikiran. Mata ajaran tersebut mengisi materi pelajaran yang disampaikan pada siswa sehingga memperoleh sejumiah pengetahuan yang berguna baginya. Semakin banyak pengalaman dan penemuan-penemuan maka semakin banyak pula mata ajaran yang harus disusun dalam kurikulum dan harus dipelajari oleh siswa disekolah.

3.1.3 Kurikulum Sebagai Rencana Kegiatan Pembelajaran

Kurikulum adalah suatu program pendidikan yang disediakan untuk pembelajaran siswa. Dengan program ini siswa inelakukan berbagai kegiatan belajar, sehingga menjadi perubahan dan perkembangan tingkah laku siswa sesuai dengan tujuan pendidikan dan pembelajaran. Dengan kata lain sekolah menyediakan lingkungan yang memberikan kesempatan belajar bagi siswa. Itu sebabnya, suatu kurikulum harus disusun sedemikian rupa agar maksud tersebut dapat tercapai. Kurikulum tidak terbatas pada mata ajaran saja, melainkan melipiuti segala sesuatu yang dapat mempengaruhi perkembangan siswa, seperti bangunan, perpustakaan, gambar-gambar, halaman, perlengkapan dll. Hal ini berarti semua hal dan semua orang yang terlibat dalam memberikan bantuan kepada siswa termasuk ke dalam kurikulum.

3.1.4 Kurikulum Sebagai Pengalaman Pelajar

Perumusan atau pengertian kurikulum lainnya agar berbeda dengan pengertian-pengertian sebelumnya yang lebih menekankan bahwa kurikulum merupakan serangkaian pengalaman belajar. Pengertian ini menunjukkan bahwa kegiatan-kegiatan kurikulum tidak terbatas dalam ruang kelas saja, melainkan mencakup juga kegiatan-kegiatan diluar kelas. Tak ada pemisahan yang tegas dntara ekstra dan intra kurikulum. Semua kegiatan yang memberikan pengalaman belajar bagi siswa pada hakekatnya adalah kurikulum.Kurikulum adalah seperangkat rencana dan peraturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar. Isi kurikulum merupakan susunan dan bahan kajian dan    untuk mencapai tujuan penyelenggaraan satuan pendidikan yang bersangkutan, dalam rangka upaya pencapai tujuan pendidikan nasional.

3.2. Landasan Pengembangan Kurikulum

3.1 Filosofis

Filsafat pendidikan mengandung nilai-nilai atau cita-cita masyarakat. Berdasarkan cita-cita tersebut terdapat landasan, man dibawa kemana pendidikan anak. Filsafat pendidikan menggambarkan manusia yang ideal yang diharapkan oleh masyarakat. Dengan kata lain filsafat pendidikan merupakan pandangan hidup masyarakat. Filsafat pendidikan menjadi landasan untuk merancang tujuan pendidikan, prinsip pendidikan serta seperangkat pengalaman belajar lainnya.

Hal ini menunjukkan pada kebutuhan pembangunan sesuai dengan sektor-sektor yang perlu dibangun itu sendiri, yakni bidang industri, pertanian, tenaga kerja, perdagangan, transportasi dll. Pembangunan SDM yang berkualitas diarahkan untuk meningkatkan kwalitas SDM yang mampu mendukung -pembangunan ekonomi dan pembangunan dibidang-bidang lainnya. Implikasi dari upaya pembangunan tersebut maka diperlukannya peningkatan produktifitas, peningkatan pendidikan nasional yang merata dan bermutu, peningkatan dan perluasan pendidikan keahlian sesuai dengan kebutuhan bidang-bidang pembangunan tersebut. dan pembangunan iptek yang mantap.

Gambaran tentang proses dan tujuan pembangunan tersebut diatas sekaligus menggambarkan kebutuhan pembangunan secara keseluruhan. Hal mana memberikan implikasi tertentu terhadap pendidikan di perguruan tinggi. Dengan kata lain penyelenggara pendidikan di perguruan tinggi harus disesuaikan dan diarahkan pada upaya-upaya dan kebutuhan pembangunan, yang mencangkup pembangunan ekonomi dan pengembangan SDM yang berkwalitas. Penyelenggaraan pendidikan diarahkan untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan keilmuan dan keahlian, yang berisi mendukung tercapainya cita-cita nasional. yakni suatu masyaral yang maju, mandiri dan sejahtera.

2.2 Iptek dan Seni

Pembangunan didukung oleh perkembangan iptek dalam rangka mempercepat terwujudnya ketangguhan dan Keunggu bangsa. Dukungan iptek terhadap pembangunan dimaksud untuk memacu pembangunan untuk menuju terwujudnya masyarakat yang mandiri, maju dan sejahtera. Di sisi lain perkembangan iptek itu sendiri berlangsung semakin cepat berbarengan dengan persaingan antar bangsa semakin meluas sehingga diperlukan penguasan dan pengembangan iptek yang pada gilirannya mengandung implikasi tertentu terhadpa pengembangan sumber daya manusia supaya memiliki kemampua dalam penguasaan dan pemanfaatan serta pengembangan dalam bidang iptek. Untuk mencapai tujuan dan kemampuan tersebut, beberapa hal yang dapat dijadikan dasar :

  1. Pembangunan iptek harus beraada dalam keseimbangan yang dinamis dan efektif dengan pembinaan SDM. pengembangan sarana dan prasarana iptek, pelaksanaan penelitian pengembangan serta rekayasa produksi barang dan jasa.
  2. Pembangunan iptek tertuju pada peningkatn kwalitas, yaitu untuk meningkatkan kwalitas kesejahteraan dan kehidupan bangsa.
  3. Pembangunan iptek harus sclaras dengan nilai-nilai agama, nilai luhur budaya bangsa, kondisi sosial budaya dan lingkungan hidup.
  4. Pembangunan iptek harus berpijak pada upaya peningkatan produktifitas, efisiensi dan efektifitas penelitian dan pengembangan yang lebih tinggi.
  5. Pembangunan iptek berdasarkan pada asas pemanfaatan yang dapat memberikan nilai tambah dan memberikaxt pemecahan masalah konkrit dalam pembangunan.

Penguasaan, pemanfaatan, dan pengembangan iptek dilaksanakan oleh berbagai pihak, yakni :

  1. Pemerintah, mengembangkan dan memanfaatkan iptek untuk menunjang pembangunan di segala bidang.
  2. Masyarakat, yang memanfaatkan iptek untuk pengembangan masyarakat secara swadaya.
  3. Akademisi terutama dilingkungan perguruan tinggi yang memanfaatkan iptek untuk disumbangkan pada pembangunan.
  4. Pengusaha, untuk kepentingan meningkatkan produktifitas.

1. Komponen Pengenibangan Kurikulum

3.1 Tujuan Kurikulum

Tujuan kurikulum setiap satuan pendidikan harus mengacu pada pencapaian tujuan pendidikan nasional, sebagai mana telah ditetapkan pada UU no.2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam skala yang lebih luas, kurikulum merupakan sesuatu alat pendidikan dalam rangka pengembangan SDM yang berkwalitas. Kurikulum menyediakan kesempatan yang luas bagi peserta didik untuk mengalami prosdes pendidikan dan pembelajaran unutuk mencapai target tujuan pendidikan nasional khususnya dan SDM yang berkwalitas umumnya. Tujuan itu dikategorikan sebagai tujuan umum kurikulum.

Tujuan mata ajaran. Mata ajaran dikelompokkan menjadi beberapa bidang studi, yakni :

  1. Bidang studi bahasa dan seni
  2. Bidang studi IPS
  3. Bidang studi IPA
  4. Bidang studi pendidikan jasmani dan kesehatan

Setiap bidang studi meliputi mata ajaran tertentu. Misalnya bidang studi IPS, terdiri dari mata ajaran ekonomi, sosiologi, geografi, sejarah dll.

Setiap mata ajaran mempunyai tujuan sendiri dan berbeda dengan tujuan yang hendak dicapai oleh mata ajaran lainnya. Tujuan mata ajaran merupakan penjabaran dari tujuan kurikulum dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. Sebagai contoh kita pilih, kita pilih tujuan mata ajaran berhitung, sebagai berikut :

  1. Menanamkan, memupuk dan mengembangkan pengetahuan dan kecakapan dasar berhitung yang praktis.
  2. Menanamkan, memupuk dan mengembangkan kemampuan berpikir logis dan kritis dalam pola berpikir abstrak, sehingga mampu memecahkan soal-soal yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.
  3. Menanamkan, memupuk dan mengembangkan kemampuan untuk hemat dan pandai menghargai waktu, rasional dan ekonomis.
  4. Menanamkan, memupuk dan mengembangkan sikap gotong royong, jujur, serta percaya kepada diri sendiri.

Berdasarkan tujuan tersebut, baik tujuan umum maupun tujuan khusus selanjutnya dapat ditetapkan atau direncanakan dalam materi pelajaran.

3.2 Materi Kurikulum

Materi kurikulum pada hakekatnya adalah isi kurikulum. Dalam UU pendidikan tentang Sistim Pendidikan Nasional telah ditetapkan bahwa “isi kurikulum merupakan bahan kajian dan pelajaran untuk mencapai tujuan penyelenggaraan satuan pendidikan yang bersangkutan dalam upaya pencapaian tujuan pendidikan nasional”. Sesuai dengan rumusan tersebut, isi kurikulum dikembangkan dan disusun berdasarkan prinsip-prinsip :

  1. Materi kurikulum bempa bahan pembelajaran yang terdiri dari bahan kajian atau topik-topik pelajaran yang dapat dikaji oleh siswa dalam proses belajar dan pembelajaran.
  2. Materi kurikulum mengacu pada pencapaian tujuan masing-masing satuan pendidiknan. Perbedaan dalam ruang lingkup dan urutan bahan pelajaran disebabkan oleh perbedaan tujuan satuan pendidikan tersebut.
  3. Materi kurikulum diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Dalam hal ini, tujuan pendidikan nasional mempakan target tertinggi yang hendak dicapai melalui penyampaian materi kurikulum.

Materi kurikulum mengandung aspek-aspek tertentu sesuai dengan tujuan kurikulum yang meliputi :

  1. Teori, seperangkat konsep atau defenisi dan preposisi yang saling berhubungan, yang menyajikan pendapat sistematik tentang gejala dengan menspesifikasi hubungan-hubungan antara variabel dengan maksud menjelaskan dan meramalkan gejala tersebut.
  2. Konsep, suatu abstraksi yang dibentuk oleh generalisasi dari kekhususan – kekhususan. Konsep adalah defenisi singkat dari sekelompok fakta atau gejala.
  3. Generalisasi, kesimpulan umum berdasarkan hal-hal yang khusus, bersumber dari analisis, pendapat atau pembuktian dalam penelitian.
  4. Prinsip, adalah ide utama, pola skema yang ada dalam materi yang mengembangkan hubungan antara beberapa konsep
  5. Prosedur, adalah suatu seri langkah-langkah yang berurutan dalam materi pelajaran yang harus dilakukan oleh siswa.
  6. Fakta, adalah sejumlah informasi khusus dalam materi dianggap penting, terdiri dari terminologi, orang, tempat dan kejadian.
  7. Istilah, adalah kata-kata perbendaharaan yang baru dan khusus diperkenalkan dalam materi
  8. Contoh atau illustrasi ialah suatu hal atau tindakan atau dan khusus diperkenalkan dalam materi
  9. Definisi, ialah penjelasan tentang makna atau pengertian tentang sesuatu
  10. Preposisi, suatu pernyataan atau pendapat yang tak perlu diberi argumentasi.

3.3. Organisasi Kurikulum

Organisasi kurikulum terdiri dari beberapa bentuk yang masing-masing memiliki ciri-ciri sendiri :

  1. Mata pelajaran terpisah-pisah

Kurikulum terdiri dari sejumlah mata ajaran yang terpisah-pisah, seperti sejarah, ilmu pasti, bahasa Indonesia, dll. Tiap mata ajaran disampaikan sendiri-sendiri tanpa ada hubungannya dengan mata ajaran lainnya. Masing-masing diberikan pada waktu tertentu, dan tidak mempertimbangkan minat, kebutuhan, dan kemampuan siswa. Semua materi diberikan sama.

  1. Mata ajaran – mata ajaran berkorelasi

Korelasi diadakan sebagai upaya untuk mengurangi kelemahan-kelemahan sebagai akibat pemisahan mata ajaran. Prosedur yang ditempuh ialah menyampaikan pokok-pokok  yang saling berkorelasi guna memudahkan siswa memahami pelajaran tersebut.

  1. Bidang studi

Beberapa mata ajaran yang sejenis dan memiliki ciri-ciri yang sama dikorelasikan dalam satu bidang pengajaran, misaInya bidang studi bahasa Indonesia, meliputi membaca, bercerita, mengarang,dan sebagainya.

  1. Program yang berpusat pada anak

Program ini adalah orientasi baru dimana krrikulum dititik beraikan pada kegiatan-kegiatan peserta didik, bukan pada mata ajaran. Guru menyiapkan program yang meliputi kegiatan-kegiatan yang menyajikan kehidupan anak, misalnya ekskursi dan cerita. Dengan cam memperkaya dan mempertuas macam-macam kegiatan, peserta didik dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan. Cara lain untuk melaksanakan kurikulum ini ialah pengajaran dimulai dari kelompok siswa yang belaju, kemudin guru bersam siswa tersebut menyusun program bagi mereka. Para siswa akan memperoleh pengalaman melalui program ini.

  1. Core Program

Core artinya inti atau pusat. Core program adalah suatu program inti berupa suatu unit atau masalah. Masalah diambil dari satu mata ajaran tertentu, misalnya bidang studi IPS. Beberapa mata ajaran lainnya diberikan melalui kegiatan belajar dalam upaya memecahkan masalah tersebut. Mata ajaran tersebut tidak diberikan secara terpisah. Biasanya dalam program itu telah disarankan pengalaman-pengalaman yang akan diperoleh oleh siswa dalam garis besarnya. Berdasarkan pengalaman yang disarankan itu, guru dan siswa memilih, merencanakan dan mengembangkan suatu unit kerja yang sesuai dengan minat, kemampuan dan kebutuhan siswa.

  1. Eclectic Program

Eclectic program adalah suatu program yang mencari keseimbangan antara organisasi kurikulum yang berpusat pada mata ajaran dan yang berpusat pada peserta didik. Caranya ialah memilih unsur-unsur yang dianggap baik yang terdapat pada kedua jems organisasi tersebut, kemudian unsur-unsur itu diintegrasikan menjadi suatu program. Program ini sesuai dengan minat, kebutahan dan kematangan peserta didik, Ruang lingkup dan umum bahan pelajaran telah ditentukan sebelumnya, dan kemudian perinciannya dikerjakan oleh guru dan siswa. Sebagian waktu digunakan secara untuk pengajaran langsung, misalnya pengajaran keterampilan dan sebagian waktu lainnya disediakan untuk unit kerja. Program ini juga menyediakan kesempatan untuk bekerja kreatif, mengembangkan apresiasi dan pemahaman. Pembagian waktu disesualkan dengan kegiatan untuk mencapai tujuan.

3.4 Evaluasi kurikulum

Evaluasi merupakan suatu komponen kurikulum, karena kurikulum adalah pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar. Dengan evaluasi dapat diperoleh invormasi yang akurat tentang penyelenggaraan pembelajaran dan keherhasilan belajar siswa. Berdasarkan informasi itu dapat dibuat  keputusan tentang kurikulum itu sendiri, pembelajaran, kesulitan dan upaya bimbingan yang perlu diberlakukan.

Aspek-aspek yang perlu dinilai benitik tolak dari aspekaspek tujuan yang hendak dicapai, baik tujuan kurikulum, tujuan pembelajaran dan tujuan belajar siswa. Setiap aspek yang dinilai berpangkal pada kemampuan apa yang hendak dikembangkan, sedangkan tiap kemamptran itu mengandung unsur-unsur pengetahuan, keterampilan dan sikap serta nilai. Penetapan aspek yang dinilai mengacu pada kriteria keberhasilan yang telah ditentukan dalam kurikulum tersebut.

Jents penilaian yang dilaksanakan tergantung pada tujuan diselenggarakannya penilaian tersebut. MisaInya, penilaian formatif dimaksudkan untuk mengetahui kemajuan siswa dan dalam upaya melakukan perbaikan yang dibutuhkan. Berbeda dengan penilaian summatif yang bermaksud menilai kemajuan siswa setelah satu semester atau dalam periode tertentu, untuk mengetahui perkembangan siswa secara menyeluruh.

Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh suatu instrument penilaian, ialah validitas, reliabilitas, obiektifitas, kepraktisan, dan pembedaan. Disamping itu perlu diperhatikan bahwa penilaian harus objektif, dilakukan berdasarkan tanggung jawab kelompok guru, rencana yang rinci dan terkait dengan pelaksanaan kurikulum, sesuai dengan tujuan dan materi kurikulum, menggunakan alat ukur yang handal dan mudah dilaksanakan serta memberikan hasil yang akurat.

3. Prinsip-Prinsip Pengembangan Kurikulum

4.1 Prinsip Relevansi (kesesualan)

Pengembangan kurikulum yang meliputi tujuan, isi dan sistem penyampaiannya harus relevant dengan kebutuhan dan sesuai dengan kebutuhan dan keadaan masyarakat, tingkat perkembangan dan kebutuhan sisiwa. serta serasi dengan perkembangan iptek.

4.2 Prinsip Kontinuitas (berkesinambungan)

Kurikulum disusun secara berkesinambungan, artinya baglan, aspek, materi, bahan kajian, disusun secara berurutan. tidak terlepas-lepas, melainkan satu sama lain memiliki hubungan fungsional yang bermakna, sesuai dengan jenjang pendidikan, struktur dan tingkat perkembangan siswa. Dengan prinsip mi tampak jelas alur dan keterkaitan di dalam kurikulum tersebut sehingga mempermudah guru dan siswa dalam melaksanakan proses pembelajaran.

4.3 Prinsip Fleksibelitas (keluwesan)

Kurikulum yang luwes mudah disesuaikan, diubah dilengkapi atau dikurangi berdasarkan tuntutan dan keadaan ekosistem dan kemampuan setempat, jadi tidak statis atau kaku Misalnya dalam suatu kurikulum disediakan program pendidikan keterampilan industri dan pertanian. Pelaksanaannya di kota, tapi karena ketidaktersediaan lahan, maka yang dilaksanakan adalah program pendidikan keterampilan industri. Sebaliknya pelaksanaannya di desa ditekankan pada program pendidikan keterampilan pertanian. Dalam hal im lingkungan sekitar, keadaan masyarakat dan ketersediaan tenaga dan peralatan menjadi faktor pertimbangan dalam rangka pelaksanaan kurikulum.

 

 

 

Prinsip Belajar dan Aplikasinya

2.1. PRINSIP-PRINSIP BELAJAR YANG TERKAIT DENGAN PROSES BELAJAR

Banyak teori dan prinsip-prinsip belajar yang dikemukakan oleh para ahli yang satu dengan yang lain memiliki persamaan dan perbedaan. Dari berbagai prinsip belajar tersebut terdapat beberapa prinsip yamg relatif berlaku umum yang dapat kita pakai sebagai dasar dalam upaya pembelajaran, baik bagi siswa yang perlu meningkatkan upaya belajarnya maupun bagi guru dalam apaya meningkatkan mengajarnya. Prinsip-prinsip itu berkaitan dengan perhatian dan motivasi, keaktifan, keterlibatan langsung/berpengalaman, pengulangan, tantangan, balikan dan penguatan. serta perbedaan individual.

2.1.1 Perhatian dan Motivasi

Perhatian mempunyai peranan yang penting dalam kegiatan belajar. Dari kajian teori belajar pengolahan informasi terungkap bahwa tanpa adanya perhatian tak mungkin terjadi belajar (Gage n Berliner, 1984: 335 ). Perhatian terhadap belajar akan timbul pada siswa apabila bahan pelajaran sesuai dengan kebutuhannya.

Apabila bahan pelajaran itu dirasakan sebagai sesuatu yang dibutuhkan, diperlukan untuk belajar lebih Ianjut atau diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, akan membangkitkan motivasi untuk mempelajarinya. Apabila perhatian alami ini tidak ada maka siswa perlu dibangkitkan perhatiannya.

Di samping perhatian, motivasi mempunyai peranan yang sangat penting dalam kegiatan belajar. Motivasi adalah tenaga yang menggerakkan dan mengarahkan aktivitas seseorang. Motivasi dapat dibandingkan dengan mesin dan kemudi pada mobil (gage dan Berliner, 1984 : 372).

“Motivation is the concept we use when we ddescribe the force action on or whitin an organism yo initiate and direct behavior”

Demikian menurut H.L. Petri (Petri, Herbet L, 1986: 3). Motivasi dapat merupakan tujuan dan alat dalam pembelajaran. Sebagai tujuan, motivasi merupakan salah satu tujuan dalam mengajar. Guru berharap bahwa siswa tertarik dalam kegiatan intelektual dan estetik sampai kegiatan belajar berakhir. Sebagai alat, motivasi merupakan salah satu faktor seperti halnya intelegensi dan hasil belajar sebelumnya yang dapat menentukan keberhasilan belajar siswa dalam bidang pengetahuan, nilai-nilai, dan keterampilan.

Motivasi mempunyai kaitan yang crat dengan minat. Siswa yang memiliki minat terhadap sesuatu bidang studi tertentu cenderung tertarik perhatiannya dan dengan demikian timbul motivasinya untuk mempelajari bidang studi tersebut. Motivasi juga dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dianggap penting dalan, kehidupannya. Perubahan nilai-nilai yang dianut akan mengubah tingkah laku manusia dan motivasinya. Karenanya, bahan-bahan pelajaran yang disajikan hendaknya disesuaikan dengan minat siswa dan tridak bertentangan dengan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat.

Sikap siswa, seperti haInya motif menimbulkan dan mengarahkan aktivitasnya. Siswa yang menyukai matematika akan merasa senang belajar matematika dan terdorong untulk belajar lebih giat, demikian pula sebaliknya. Karenanya adalah kewajiban bagi guru untuk bisa menanamkan sikap positif pada diri siswa terhadap mata pelajaran yang menjadi tanggung jawabnya.

Insentif, suatu hadiah yang diharapkan diperoleh sudah melakukan kegiatan, dapat menimbulkan motif. Hal ini merupakan dasar teori belajar B.F. Skinner dengan operant conditioning-nya’ (Hal ini dibkarakan lebih lanjut dalam prinsip balikan dan penguatan).

Motivasi dapat bersifat internal, artinya datang dari dirinya sendiri, dapat juga bersifat eksternal yakni datang dari orang lain, dari guru, orang tua, teman dan sebagainya. Motivasi juga dibedakan atas motif intrinsik dan motif ekstrinsik. Motif intrinsik adalah tenaga pendorong yang sesuai dengan perbuatan yang dilakukan. Sebagai contoh, seorang siswa yang dengan sungguh-sungguh mempelajari mata pelajaran di sekolah karena ingin memiliki pengetahuan yang dipelajarinya. Sedangkan motil ekstrinsik adalah tenaga pendorong yang ada di luar perbuatan yang dilakukannya tetapi menjadi penyertaanya. Sebagai contoh, siswa belajar sungguh-sungguh bukan disebabkan ingin memiliki pengetahuan yang dipelajarinya telapi didorong oleh keinginan naik kelas atau mendapat ijazah. Naik kelas dan mendapat ijazah adalah penyerta dari keberhasilan belajar.

Motif intrinsik dapat bersifat internal, datang dari diri sendiri, dapat juga bersifat eksternal, datang dari luar. Motif ekstrinsik bisa bersifat eksternal, walaupun lebih banyak bersifat ekstemal. Motif ekstrinsik dapat juga berubah menjadi motif intrinsik yang disebut ‘Iransformasi motir’. Sebagai contoh. seorang siswa belajar di Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LIPTK) karena menuruti keinginan orang tuanya yang menginginkan anaknya menjadi guru. Mula-mula motifnya adalah ekstrinsik, yaitu ingin menyenangkan orang tuanya, tetapi setelah belajar heberapa lama di LPTK ia menyenangi pelajaran-pelajaran yang digelutinya dan senang belajar untuk menjadi guru. Jadi motif pada siswa itu yang semula ekstrinsik menjadi intrinsik.

Perhatian

Perhatian erat sekali kaitannya dengan motivasi bahkan tidak dapat dipisahkan. Perhatian ialah pemusatan energi psikis (fikiran dan perasaan) terhadap suatu objek. Makin terpusat perhatian pada pelajaran, proses belajar makin baik dan hasilnya akan makin haik pula. Oleh karena itu guru harus selalu berusaha supaya perhatian siswa terpusat pada pelajaran. Memunculkan perhatian seseorang pada suatu objek dapat diakibatkan oleh dua hal.

Pertama, orang itu merasa bahwa objek tersebut mempunyai kaitan dengan dirinya umpamanya dengan kebutuhan, cita cita, pengalaman, bakat, minat.

Kedua, Objek itu sendiri dipandang memiliki sesuatu yang lain dari yang lain, atau yang lain dari yang biasa, lain dari yang pada umumnya muncul.

Perhatikan contoh kasus dibawah ini

  1. Rukiah, salah seorang siswa disuatu sekolah dasar sangat tertarik dengan penjelasan ibu gurunya tentang perpindahan penduduk. sehingga ia sungguh-sungguh memperhatikan pelajaran tersebut, karena ia pernah dibawa orang tuanya bertransmigrasi.
  2. Sekelompok siswa disuatu sekolah dasar pada sutu waku mengikuti pelajaran dengan penuh perhatian karena guru mengajarkan pelajaran tersebut dengan menggunakan alat peraga yang sebelumnya guru tersebut belum pernah melakukannya.
  3. Sekelompok siswa sedang asyik mengerjakan tugas kelompok, dalam pelajaran IPA. KeRhatannya mereka sangat sungguh-sungguh menerjakan tugas tersebut. Biasanya mereka belajar cukup mendengarkan ceramah dari guru.

Ketiga contoh diatas menggambarkan siswa yang belajar dengan penuh perhatian akan tetapi penyebabnya berbeda.

Contoh pertama, Rukiah belajar dengan penuh perhatian. Karena pelajaran tersebut memiliki kaitan dengan pengalamannya. Pelajaran tersebut ada kaitan dengan diri siswa. Pada contoh kedua, siswa belajar dengan penuh perhatian, karena guru mengajar dengan menggunakan alat peraga, (cara guru mengajar lain dan kebiasaannya)

Demikian pula contoh ketiga, siswa belajar dengan penuh perhatian Karena guru menggunakan metode yang bervariasi tidak hanya ceramah).

Dari uraian dan contoh diatas dapat disimpulkan, bahwa :

  1. Belajar dengan permh perhatian pada pelajaran yang sedang dipelajari, proses dan hasilnya akan lebih baik.
  2. Upaya guru memumbuhkan dan meningkatkan perhatian siswa terhadap pelajaran dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain:
    1. Mengaitkan pelajaran dengan pengalaman, kebutuhan, cita-cita, bakat atau minat siswa.
    2. Menciptakan situasi pembelajaran yang tidak monoton. Umpamanya penggunaan metode mengajar yang bervariasi, penggunaan media, tempat belajar tidak terpaku hanya didalam kelas saja.

Coba anda pilih salah satu pokok bahasan dari salah satu mata pelajaran yang biasa anda ajarkan. Kemukakan upaya apa yang harus anda lakukan untuk:

  1. Menarik perhalian siswa dengan cara mengailkan pelajaran tersebut dengan diri siswa (umpamanya dengan pengalaman mereka).
  2. Menarik perhatian siswa dengan cara menciptakan situasi pembelajaran yang bervariasi (umpamanya dalam penggunaan metode mengajar)

2.2. KEAKTIFAN BELAJAR

Kecendrungan psikologi dewasa ini menganggap bahwa anak adalah makhluk yang aktif. Anak mempunyai dorongan untuk berbuat sesuatu, mempunyai kemampuan dan aspirasi sendiri. Belajar tidak bisa dipaksakan oleh orang lain dan juga tidak bisa dilimpahkan kepada orang lain. Belajar hanya mungkin terjadi apabila anak aktif mengalami sendri. Mon Dewey misalnya mengemukakan, bahwa belajar adalah menyangkut apa yang harus dikerjakan siswa untuk dirmya sendiri. maka inisiatif harus datang dari siswa sendiri. Guru sekedar pembimbing dan pengarah (John Dewy 1916. dalam Dak ks, 1937:3 1).

Menurut teori kognitif. belajar menunjukkan adanya jiwa yang sangat aktif, jiwa mengolah informasi yang kita terima, tidak sekadar menyimpannya saja tanpa mengadakan transformasi. (Gage and Berliner, 1984 : 267). Menurut teori ini anak memiliki sifat aktif, konstruktif, dan mampu merencanakan sesuatu. Anak mampu mencari. menermakan fakta. menganalisis, menafsirkan dan menairik kesimpulan,

Thomdike mengemukakan keakifan siswa dalam belajar dengan bukum “lah. of exercise ” -nya yang menyatakan bahwa belajar memerlukan adanya latihan-latihan. Mc Keachk berkenan dengan prinsip keaktifan mengemukakan babwa individu merupakan “manusia belajar yang selalu ingin tahu, sosial,” (MC Keachk, 1976:230 dari Gredler MEB terjemahan Munandir, 1991:105).

Dalam setiap proses belajar, siswa selalu menampakkan keaktifan. Keaktifan itu beraneka ragam bentuknya. Mulai dari kegiatan fisik yang mudah kita amati sampai kegiatan psikis yang susah diamati. Kegiatan fisik bisa berupa membaca, mendengar, menulis, berlatih keterampilan-keterampilan, dan sebagainya. Contoh kegiatan psikis misaInya menggunakan khasanah pengetahuan yang dimiliki dalam memecahkan masalah yang dihadapi, membandingkan satu konsep dengan yang lain, menyimpulkan basil percobaan, dan kegiatan psikis yang lain.

Seperti yang telah dibahas di depan bahwa belajar iu sendiri adalah akivitas, yaitu aktivitas mental dan emosional. Bila ada siswa ) yang duduk di kelas pada saat pelajaran berlangsung, akan tetapi mental emosionainya tidak terlibat akif didalam situasi pembelajaran itu, Pada hakikamya siswa tersebut tidak ikut belajar.

Oleh karena itu guru jangan sekali-kali membiarkan ada siswa yang tidak ikut aktif belajar. Lebih jauh dari sekedar mengaktifkan siswa belajar, guru harus berusaha meningkatkan kadar aktifitas belaiar tersebut.

Kegiatan mendengarkan penjelasan guru, sudah menunjukkan adanya aktivitas belajar. Akan tetapi barangkali kadarnya perlu ditingkinkan dengan metode mengajar lain.

Sekali untuk memantapkan pemahaman anda tentang upaya meningkatkan kadar aktivitas belajar siswa, coba anda tetapkan salah satu pokok bahasan dari salah satu mata pelajaran yang biasa diajarkan. Silahkan anda rancang kegiatan-kegiatan belajar  yang bagaimana yang harus siswa anda lakukan, supaya kadar aktivitas belajair mereka relatif tinggi.

Bila sudah selesai anda kerjakan, silahkan diskusikan deingan guru lain disekolah anda atau guru sesama peserta program

2.3. KETERLIBATAN LANGSUNG DALAM BELAJAR

Di muka telah dibkarakan bahwa belajar haruslah dilakukan sendiri oleh siswa yang, belajar adalah mengalami, belajar tidak bisa dilimpahkan kepada orang lain. Edgar Dale dalam penggolongan pengalaman belajar yang dituangkan dalam kerueut pengalamannya mengemukakan bahwa belajar yang paling baik adalah belajar melalui pengalaman langsung. Dalam belajar melalui pengalaman langsung siswa tidak sekadar mengamati secara langsung tetapi ia harus menghayati, terlibat langsung dalam perbuatan, dan bertanggung jawab tehadap hasilnya. Sebagai contoh seseorang yang belajar membuat tempe, yang paling baik apabila ia terlihat secara langsng dalam perbuatan (direct performance), bukan sekadar melihat bagaimana orang menikmati tempe (demonstrating), apalagi sekadar mendengar orang bercerita bagaimana cara pembuatan tempe (telling).

Pentingnya ketelibatan langsung dalam belajar dikemukakan oleh John Dewey dengan “leaming by doing”-nya. Belajar sebaiknya dialami melalui perbuatan langsung. Belajar harus dilakukan oleh siswa secara aktif, baik individual maupun kelompok, dengan cara memecahkan masalah (prolem solving). Guru bertindak sebagai pembimbing dan fasilitator.

Keterlibatan siswa di dalam belajar jangan diartikan keterlibatan fisik semata, namun lebih dari itu terutama adalah keterlibatan mental emosional, keterlibatan dengan kegiatan kognitif dalam pencapaian dan perolehan pengetahuan, dalam penghayatan dan intemalisasi nilai-nilai dalam pembentukan sikap dan nilat, dan juga pada saat mengadakan latihan-latihan dalam pembentukan keterampilan.

2.4. PENGULANGAN BELAJAR

Prinsip belajar yang menekankan perlunva pengulangan barangkali yang paling tua adalah yang dikemukakan oleh teori Psikologi Dava. Menurut teori ini belajar adalah melatih daya-daya yang ada pada manusia yang terdiri atas daya mengamat, menanggap, mengingat. mengkhayal, merasakan. berpikir. dan sebagainya. Dengan mengadakan pengulangan maka dasya-daya tersebut akan berkembang. Seperti hainya pisau yang selalu diasah akan menjadi tajam, maka daya-daya yang dilatih dengan pengadaan pengulangan-pengulangan akan menjadi sempuma.

Teori lain yang menekankan prinsip pengulangan adalah teori psikologi Asosiasi atau Koneksionisme dengan tokoh yang terkenal Thorndike. Berangkat dari salah satu hukum belajarnya “law of exercise“, ia mengemukakan bahwa belajar ialah pembentukan hubungan antara stimulus dan respons. dan pengulangan terhadap pengalaman-pengalaman itu memperbesar peluang timbulnya respons benar. Seperti kata pepatah “latihan menjadikan sempuma” (Thomdike, 1931b:20. dari Gredlei, Marget E Bell, terjemahan Munandir, 1991: 51).Psikologi Conditioning yang merupakan perkembangan lebih lanjut dari Koneksionisme juga menekankan pentingnya pengulangan dalam belajar. Kalau pada Koneksionisme, belajar adalah pembentukan hubungan stimulus dan respons maka pada psikologi conditioning respons akan timbul bukan karena saja stimulus, tetapi juga oleh stimulus yang dikondisikan. Banyak tingkah laku manusia yang terjadi karena kondisi, misalnya siswa berbaris masuk ke kelas karena mendengar bunyi lonceng, kendaman berhenti ketika lampu Ialu lintas berwarna merah. Menurut teori ini perilaku individu dapat dikondisikan, dan belajar merupakan upaya untuk mengkondisikan suatu perilaku atau respons terhadap sesuatu. Mengajar adalah membentuk kebiasaan, mengulang-ulang sesuatu perbuatan sehingga menjadi suatu kebiasaan dan pembiasaan tidak perlu selalu oleh stimulus yang sesungguhnya, tetapi dapat juga oleh stimulus penyerta.

Ketiga teori tersebut menekankan pentingnya prinsip pengulangan dalam belajar walaupun dengan tujuan yang berbeda. Yang pertama pengulangan untuk melatih daya-daya jiwa sedangkan yang kedua dan ketiga pengulangan untuk respons yang benar dan membentuk kebiasaan- kabiasaan. Walaupun kita tidak japat menerima bahwa belajar adalah pengulangan seperti yang dikemukakan ketiga teori tersebut, karena tidak dapat dipakai untuk menerangkan semua bentuk belajar, namun prinsip pengulangan masih relevan sebagai dasar pembelajaran. Dalam belajar tetap diperlukan latihan/pengulangan. Metode drill dan stereotyping adalah bentuk belajar yang menerapkan prinsip pengulangan (Gage dan Berliner, 1984: 259).

2.5.    SIFAT MERANGSANG DAN MENANTANG DARI MATERI YANG DIPELAIARI

Teori Medan (Field Theory) dari Kurt Lewin mengemukakan bahwa dalam, situasi belajar berada dalam suatu medan atau lapangan psikologis. Dalam situasi belajar siswa menghadapi suatu tujuan yang ingin dicapai, tetapi selalu terdapat hambatan yang mempelajari bahan belajar, maka timbullah motif untuk mengatasi hambatan itu yaitu dengan mempelajari bahasa belajar tersebut. Apabila hambatan itu telah diatasi, artinya tujuan belajar telah tercapai, maka ia akan masuk dalam medan baru dan tujuan baru, demikian seterusnya. Agar pada anak timbul motif yang Kuat untuk mengatasi hambatan dengan baik maka bahan belajar haruslah menantang. Tantangan yang dihadapi dalam bahan belajar haruslah menantang.tantangan yang dihadapi dalam bahan belajar membuat siswa bergairah untuk mengatasinya. Bahan belajar yang baru, yang banyak mengandung masalah yang perlu dipecahkan membuat siswa tertantang untuk mempelajarinya. Pelajaran yang memberi kesempatan pada siswa untuk menermakan konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan generalisasi akan menyebabkan siswa berusaha meneari dan menemukan konsp-konsep, prinsip-prinsip, dan generalisasi tersebut. Bahan belajar yang telah mendan saja kurang menarik bagi siswa.

Penggunaan metode eksperimen, inkuiri, diskoveri juga memberikan tantangan bagi siswa untuk belajar secara lebili giat dan sungguh-sunggub. Penguatan positif maupun negatif juga akan menantang siswa dan menimbulkan motif untuk memperoleh gaujaran atau terhindar dari hukum yang tidak menyenangkan.

2.6.    PEMBERIAN BALIKAN ATAU UMPAN BALIK DAN PENGUATAN BELAJAR

Prinsip belajar yang berkaitan dengan balikan dan penguatan terutama ditekankan oleh teori belajar operant Conditioning dari B.F. Skinner. Kalau pada teori conditioning yang diberi kondisin adalah stimulusnya, maka pada operant conditioning yang diperkuat adalah responsnya. Kunci dari teori belajar im adalah law of effect – nya Thomdike. Siswa akan belajar lebih bersemangat apabila mengetahui dan mendapatkan hasil yang haik. Hasil, apalagi hasil yang baik, akan merupakan balikan yang menyenangkan dan berpengarub baik bagi usaha belajar selanjutnya. Namum dorongan belajar itu menurut B.E Skinner tidak saja oleh penguatan yang menyenangkan tetapi juga ada yang tidak menyenangkan. Atau dengan kata lain penguatan positif maupun negatif dapat memperkuat belajar (gage dan Berliner, 1984: 272).

Siswa belajar sunggub-sungguh dan mendapatkan nilai yang baik dalam ulangan. Nilai yamg baik itu mendorong anak untuk belajar lebih giat lagi. Nilai yang baik dapat merupakan operant conditioning atau penguatan positif. Sebaliknya anak yang mendapatkan nilai yang jelek pada waktu ulangan akan merasa takut tidak naik kelas, karena takut tidak naik kelas ia terdorong tuk belajar lebih giat. Di sini nilai buruk dan dan rasa takut lidak naik kelas juga bisa mendorong anak untuk belajar lebih giat. Inilah yang disebut penguatan negatif. Di sini siswa mencoba menghindar dari peristiwa yang tidak menyenangkan, maka penguatanatan negatif juga disebut escape conditioning, Format sajian berupa tanya jawab, diskusi, eksperimen, metode penemuan, dan sebagainya merupakan cara belajar-mengajar yang memungkinkan terjadinya balikan dan penguatan. Balikan yang segera diperoleh siswa setelah belajar melalui penggunaan metode-metode ini akan membuat siswa terdorong untuk belajar lebih giat dan bersemangat.

2.7. IMPLIKASI PRINSIP-PRINSIP BELAJAR

Siswa sebagai “primus motor” (motor utama) dalam kegiatan pembelajaran, dengan alasan apapun tidak dapat mengabaikan begitu saja adanya prinsip- prinsip belajar. Justru pada siswa akan berhasil dalam pembelajaran, jika mereka menyadari implikasi prinsip-prinsip belajar terhadap diri mereka.

2.7.1. Perhatian dan Motivasi

Siswa dituntut untuk memberikan perhatian terhadap semua ungsangan yang mengarah ke arah pencapaian tujuan belajar. Adanya tuntutan untuk selalu memberikan perhatian ini, menyebabkan siswa harus membangkitkan perhatiannya kepada segala pesan yang dipelajarinya. Pesan-pesan yang menjadi isi pelajaran seringkali dalam bentuk rangsangan suara, warna. bentuk, gerak, dan rangsangan lain yang dapat diindra. Dengan demikian siswa diharapkan selalu melatih indranya untuk memperhatikan rangsangan yang muncul dalam prosses pembelajaran. Peningkatan/pengembangan minat im merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi motivasi (Gage dan Berliner, 1984:373). Contob kegiatan atau perilaku siswa, baik fisik atau psikis, seperti mendengarkan ceramah guru, membandingkan konsep sebelumnya dengan konsep yang baru diterima, mengamati secara cermat gerakan psikomotorik yang dilakukan guru, atau kegiatan sejenis lainnya. Senma kegiatan atau perilaku tersebut harus dilakukan oleh siswa secara sadar sebagai upaya untuk meningkatkan motivasi belajarnya.

Sedangkan implikasi prinsip motivasi bagi siswa adalah disadarinya oleh siswa bahwa motivasi belajar yang ada pada diri mereka harus dibangkitkan dan mengembangkan secara terus menerus. Untuk dapat membangkitkan dan mengembangkan motivasi belajar mereka secara terus menerus, siswa dapat melakukannya dengan menentukan atau mengetahm tujuan belajar yang hendak dicapai. menanggapi secara positif pujian atau dorongan dari orang lain, menentukan target atau sasaran penyelesaian tugas belajar, dan perilaku sejenis lainnya. Dari contoh-contoh perilaku siswa untuk meningkatkan dan membangkitkan motivasi belajar, dapat ditandai bahwa perilaku-perilaku tersebut bersifat psikis.

2.7.2. Keaktifan

Sebagai “primus motor” dalam kegiatan pembelajaran maupun kegiatan belajar, siswa dituntut untuk selalu aktif memproses dan mengolah perolehan belajarnya. Untuk dapat memproses dan mengolah perolehan belajarnya secara efektif, perilaku-perilaku seperti mencari sumber informasi yang dibutuhkan,  menganalisis hasil percobaan, ingin tahu hasil dan kimia, membuat karya tulis, membuat kliping, dan prilaku sejenis lainnya. Implikasi prinsip keaktifan bagi siswa lebih lanjut menuntut keterlibatan langsung siswa dalam proses pembelajaran.

2.7.4. Keterlibatan langsung/ berpengalaman

Hal apapun yang dipelajari siswa, maka ia harus mempelajarinya sendiri. Tidak ada seorangpun dapat melakukan kegiatan belajar tersebut untuknya (Davies, 1987:32). Pemyataan ini. secara mutlak menuntut adanyan keterlibatan langsung dari “tiap siswa dalam kegiatan belajar pembelajaran. Implikasi prinsip ini dituntut pada para siswa agar tidak segan-segan mengerjakan segala tugas belajar yang dibeerikan kepada mereka. Dengan keterlibatan langsung inj, secara logis akan menyebabkan mereka memperoleh pengalaman atau berpengalaman. Bentuk-bentuk perilaku yang merupakan implikasi prinsip keterlibatan langsung bagi siswa misalnya adalah siswa ikut dalam pembuatan lapangan bola voli, siswa melakukan reaksi kimia, siswa berdiskusi untuk membuat laporan, siswa membaca puisi di depan kelas, dan perilaku sejenis lainnya. Bentuk perilaku keterlibatan langsung siswa tidak secara mutlak menjamin terwujudnya prinsip keaktifan pada diri siswa. Namun demikian, perilaku keterlibatan siswa secara langsung dalam kegiatan belajar pembelajaran dapat diharapkan mewujudkan keaktifan siswa.

2.7.5. Pengulangan

Penguasaan secara penuh dari setiap langkah kemungkinkan belajar secara keseluruhan lebih berarti (Davies, 1987:32 ). Dari pemyataan inilah pengulangan masih diperlukan merasa bosan dalam melakukan pengulangan. Bentuk-bentuk perilaku pembelajaran yang merupakan implikasi prinsip pengulangan, diantaranya menghafal unsur-unsur kimia setidp valensi, mengerjakan soal-soal lingkungan, Jachan, menghafal nama-nama latin tumbuhan, atau menghafal tahun-tahun terjadinya peristiwa sejarah.

2.7.6. Tantangan

Prinsip belajar ini bersesuaian dengan pemyataan bahwa apabila siswa diberikan tanggung jawab untuk mempelajari sendiri, maka ia lebih termotivasi untuk belajar, ia akan belajar dan mengingat secara lebih baik (Davies, 1987: 32). Hal ini berarti siswa selalu menghadapi tantangan untuk memperoleh. memproses, dan mengolah setiap pesan yang ada dalam kegiatan pembelajaran. Implikasi prinsip tantangan bagi siswa adatah tuntutan dimilikinya kesadaran pada diri siswa akan adanya kebutuhan untuk selalu memperoleh, memproses. dan mengolah pesan. Sclain itu, siswa juga harus memiliki keingintahuan yang besar terhadap segala permasalahan yang dihadapinya. Bentuk-bentuk perilaku siswa yang merupakan implikasi dari prinsip tantangan ini diantaranya adalah melakukan eksperimen, melaksanakan tugas terbimbing maupun mandiri, atau mencari tahu pemecahan suatu masalah.

2.7.7. Balikan dan Penguatan

Siswa selalu membutuhkan suatu kepastian dari kegiatan yang dilakukan, apakah benar atau salah? Dengan demikian siswa akan selalu memiliki pengetahuan tentang hasil (knowledge of result), yang sekaligus merupakan penguat (reinforce) bagi penguatan bentuk-bentuk perilaku siswa yang memungkinkan diantaranya adalah dengan segera mencocokkan jawaban dengan kunci jawaban, menerima kenyataan terhadap skor atau nilai yang dicapai, atau menerima teguran dari gurulorang tua karena hasil belajar yang jelek.

2.7.8. Perbedaan Individual

Setiap siswa memiliki karakteristik sendiri-sendiri yang berbeda satu dengan yang lain. Karena hal inilah, setiap siswa belajar menurut tempo (kecepatan)nya sendiri dan untuk setiap kelompok umur terdapat variasi kecepatan belajar (Davies, 1987: 32). Kesadaran bahwa dirinya berbeda dengan siswa lain, akan membantu siswa menentukan cara belaiar dan sasaran belajar bagi dirinya sendiri. Implikasi adanya prinsip perbedaim individual diantaranya adalah menentukan tempat duduk di kelas, menyusun jadwal belajar, atau memilih bahwa implikasi adanya prinsip perbedaan individu bagi siswa dapat berupa perilaku fisik maupun psikis. Untuk memperjelas implikasi prinsip-prinsip belajar bagi siswa, anda dapat mengidentifikasi dari kegiatan siswa dalam kegiatan pembelajaran sebagai indikatornya.

2.7.9. Perbedaan individual

Belajar tidak dapat diwakilkan kepada orang lain. Tidak belajar, berarti tidak akan memperoleh kemampuan. Belajar dalam arti proses mental dan emosional terjadi secara individual. Jika kita mengajar disuatu kelas sudah barang tentu kadar aktivitas belajar para siswa beragam.

Disamping itu, siswa yang belajar sebagai pribadi tersendiri, yang memiliki perbedaan dari siswa lain. Perbedaan itu mungkin dalam hal pengalaman, minat, bakat, kebiasaan belajar, kecerdasan, tipe belajar dan sebagainya..

Guru yang menyamaratakan siswa menganggap semua siswa sama. sehingga memperlakukan mereka sama kepada semua. pada prinsipnya bertentangan dengan hakikat manusia, khususnya siswa.

Guru yang bijaksana akan menghargai dan memperlakukan siswa sesuai dengan hakikat mereka masingmasing. Suatu tindakan guru yang dipandang tepat terhadap seorang siswa, belum tentu tepat untuk siswa yang lain. Akan tetapi ada perlakuan yang memang harus sama terhadap semua.

Demikian pula yang menyangkut pelajaran. Pelajaran mana yang harus dipelajari oleh semua siswa dan peIajaran mana yang boleh dipilih oleh siswa sesuai dengan bakat mereka.

Perlakuan guru terhadap siswa yang cepat harus berbeda dii i perlakuaii terhadap siswa yang termasuk lamban. Siswa yang lamban perlu banyak dibantu sedangkan siswa yang cepat dapa diberi kesempatan lebih dulu maju atau melakukan pengayaan.

Didalam menggunakan metode mengajar, guru perlu menggunakan metode mengajar yang bervariasi, sebab mungkin siswa yang kita ajar memiliki tipe belajar yang berbeda. Siswa yang memiliki tipe belajar yang auditif akan lebih mudah belajar melalui pendengaran. Siswa yang memiliki tipe belajar yang motorik akan memiliki tipe belajar visual akan lebih mudah belajar melalui penglihatan. sedangkan siswa yang memiliki tipe belajar motorik akan lebih mudah belajar melalui perbuatan.

Untuk keperluan itu semua guru perlu memahami pribadi masing-masing yang menjadi bimbingannya.

Oleh karena itu catatan pribadi siswa sangat bermanfaat. Setiap siswa perlu dikatat tentang kecerdasannya, bakatnya, tipe belajarnya, latar belakang kehidupan orang tuanya, kemampuan panca indranya, penyakit yang dideritanya, bahkan kejadian sehari-hari yang dianggap penting. Semua itu harus dkatat pada catatan pribadi siswa. Buku catatan pribadi siswa itu harus diisi secara rutin dan terus mengikuti pribadi siswa tersebut ke kelas dan ke jenjang pendidikan berikutnya.

Buku catatan pribadi tiap siswa kelas 1 setelah mereka naik kelas II harus diserahkan pada guru kelas II untuk digunakan dan diisi dengan data baru, begitulah seterusnya sampai kejenjang pendidikan berikumya.

Adakah buku catatan pribadi tiap siswa dikelas tempat anda mengajar? Bila ada coba pelajari:

  1. Data apa saja yang dicatat
  2. Kapan buku tersebut diisi
  3. Pernahkah buku catatan pribadi tersebut digunakan, dan untak apa
  4. Bagaimana saran anda untuk pemanfaatan buku catatan pribadi tersebut : data dan pengisiannya serta penggunaanya.

Jika ternyata belum ada, coba buat sebuah model buku catatan pribadi siswa yang menurut anda cukup lengkap untuk keperluan pembimbingan belajar terhadap siswa, Itulah lima prinsip belajar telah kita diskusikan. Silahkan anda pelajari berbagai sumber tentang belajar. Akan tetapi paling tidak kelima prinsip diatas hendaknya menjadi pegangan kita didalam membelajarkan siswa-siswa kita.

Belajar terjadi pada suatu system lingkungan belajar yang terdiri dari komponen atau unsur tujuan, bahan pelajaran, strategi, alat, siswa dan guru. Sebagai suatu system, unsur-unsur penabelajaran tersebut saling berkaitan, saling mempengaruhi. Oleh karena itu pemilihan dan penggunaan strategi belajar mengajar tidak dapat dilepaskan dari pertimbangan unsur-unsur lain didalam system pembelajaran. Yang menjadi unsur utama ialah tujuan pembelajaran. Semua unsur didalam pembelajaran harus sesuai dengan tujuan pembelajaran. Oleh karena itu tujuan pembelajaran harus ditetapkan lebih dulu.

Bagaimana implikasi tujuan, bahan pelajaran, alat dan siswa terhadap penggunaan strategi belajar mengajar akan kita diskusikan pada kegiatan belajar berikutnya. Untuk memantapkan pemahaman anda terhadap materi yang anda pelajari kerjakanlah latihan dibawah ini.

  1. Identifikasikanlah kegiatan pembelajaran yang anda rancang.

Apakah kegiatan pembelajarannya termasuk belajar meialui pengalaman ataukah melalui pengamatan?

  1. Kegiatan apa yang dapat dilakukan guru untuk membangkitkan motifasi belajar siswa?
  2. Kegiatan apa yang dapat dilakukan guru untuk menarik perhatian siswa?

Untuk memudahkan anda dalam mengerjakan latihan diatas bacalah rambu-rambu pengerjaan latihan berikut ini. Rambu-rambu pengerjaan latihan.

  1. Ambillah salah satu rencana pembelajaran yang akan anda laksanakan. Identifikasi setiap langkah kegiatan pembelajaran yang akan anda tempuh. Dari hasil identifikasi ini anda akan mengetahui apakah kegiatan pembelajaran yang anda rancang lebih menekankan pada belajar melalui pengalaman (langsung dan tak langsung) ataukah melalui pengamatan.
  2. Untuk menjawab pertanyaan ini anda hendaknya mengingat kembali materi yang membahas teknik-teknik membangkitkan motivasi belajar siswa. Untuk lebih meyakinkan anda observasilah teman anda yang sedang mengajar. Catatlah kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan teman anda yang dapat membangkitkan motivasi belajar siswa.
  3. Selain anda harus mengingat kembali materi tentang teknik-teknik menarik perhatian siswa, anda juga dapat melakukan observasi atau meminta teman anda mengobservasi anda yang sedang mengajar. Catatlah kegiatan-kegiatan yang dapat menarik perhatian siswa selama kegiatan pembelajaran.

Sekarang tiba saamya anda membaca rangkuman dibawah ini unuk lebih memantapkan ingatan anda terhadap materi yang telah dipelajari.

Belajar memiliki tiga atribu pokok ialah:

  1. Belajar merupakan proses mental dan emosional atau aktivitas pikiran dan perasaan.
  2. Hasil belajar berupa perubahan perilaku, baik menyangkut kognitif psikomotorik maupun afektif.

Siswa merupakan imdividual yang unik artinya tidak ada dua orang siswa yang sama persis, tiap siswa memiliki perbedaim satu dengan lain. Perbedaan itu terdapat pada karakteristik psikis, kepribadian dan sifat-sifatnya.

Perbedaan individual ini pada cara dan hasil belajar siswa. Karenanya perbedaan individu perlu diperhaikan pleh guru dalam upaya pembelajaran. Sistem pendidikan klasikal yang dilakukan disekolah kita kurang memperhatikan masalah perbedaan individual, umumnya pelaksanaan pembelajaran dikelas dengan melihat siswa sebagai individu dengan kemampuan rata-rata, kebiasaan yang kurang lebih sama, demikian pula dengan pengetahuannya.

Pembelajaran yang bersifat klasikal yang mengabaikan perbedaan individual dapa diperbaiki dengan beberapa cara. Antara lain penggunaan metode atau straegi belajar mengajar yang ervariasi sehingga perbedaan perbedaan kemampuan siswa dapat terlayani. Juga penggunaan media instruksional akan membantu melayani perbedaan siswa dalam cara belajar. Usaha lain untuk memperbaiki pembelajaran klasikal adalah dengan memberikan tambahan pelajaran atau pengayaan pelajaran bagi siswa yang pandai, dan memberikan bimbingan belajar bagi anak yang kurang. Disamping in dalam memberikan tugas hendaknya disesuikan dengan minat dan kemampuan siswa sehingga bagi siswa yang pandai, sedang, maupun kurang akan merasakan berhasil didalam belajar. Sebagai unsur primer dan sekunder dalam pembelajaran, maka dengan sendirinya  dan guru teimplikasi adanya prinsip-prinsip belajar.

Implikasi prinsip-prinsip belajar bagi siswa dan guru, tampak dalam setiap kegiatan perilaku mereka selama proses pembelajaran berlangsung. Namun demikian, perlu disadari bahaya implementasi prinsip-prinsip belajar sebagai implikasi prinsip-prinsip belajar bagi siswa dan guru tidak semuanya terwujud dalam setiap proses pembelajaran.

Tujuan dan Unsur-Unsur Dinamis Pembelajaran

5.1. Tujuan pembelajaran yang menunjang tercapainya tujuan belajar.

Pembelajaran dimaksudkan terciptanya suasana sehingga siswaa belajar. Tujuan pembelajaran haruslah menunjang dan dalam tercapainya tujuan belajar.

Dahulu, ketika pembelajaran dimaksudkan sebagai kadar penyampaian ilmu pengetahuan, pembelajaran tak terkait dengan blajar. termasuk tujuannya. Sebab, jika guru telah menyampaikan ilmu pengetahuan. tercapailah maksud atau tujuan pembelajaran tersebut.

Pembelajaran model dahulu itu, memang tidak dicoba terkaitkan dengan belajar itu sendiri. Pembelajaran lebih onsentrasi pada kegiatan guru dan tidak terkonsentrasi pada kegiatan siswa.

Jika pada masa sekarang ini pembelajaran dicoba terkaitkan dengan belajar, maka dalam merancang aktivitas pembelajaran, guru harus belajar dari aktivitas belajar siswa. Aktivitas belajar siswa harus dijadikan titik tolak dalam merancang pembelajaran.

Implikasi dari adanya keterkaitan antara kegiatan pembelajaran dan kegiatan belajar siswa tersebut adalah usunnya tujuan pembelajaran yang dapat menunjang apainya tujuan belajar. Muatan-muatan yang termaktub dalam tujuan belajar, haruslah termaktub juga dalam tujuan pembelajaran.

Contoh kongkiit tujuan pembelajaran yang kongruen dengan tujuan belajar adalah sebagai berikut :


Tujuan Belajar
Tujuan Pembelajaran
Setelah menelaah teks butir-butir pertama pancasila siswa dapat menjelaskan kaitan antara butir pertama dengan butir kedua secara benar dengan menggunakan kata-kata sendiri. Setelah siswa dibelajarkan dengan cara menelaah teks butir pertama pancasila siswa dapat menjelaskan kaitan antara butir pertama dengan butir kedua secara benar dengan menggunakan kata-kata sendiri.
Setelah mengamati berbagai tumbuh-tunibuhan di kebun percobaan sekolah, siswa dapat membedakan antara tumbuhtumbuhan yang berkeping satu dan yang berkeping dua. Setelah dibelajarkan dengan cara mengamati tumbuh-tumbuhan di kebun percobaan sekolah, siswa dapat menibedakan tumbuh-tumbuhan yang berkeping satu dengan tumbuhan berkeping dua. Setelah siswa dibelajarkan dengan cara menclaah teks butir pertama pancasila, siswa dapat menjelaskan kaitan antara butir portama dengan butir kedua secara benar dengan menggunakan kata-kata yang ada pada teks Setelah mengamati berbagai tumbuh-tumbuhan di kebun percobaan sekolah, siswa dapat membedakan antara tumbuh-tumbuhan yang berkeping satu dengan yang berkeping dua.
Setelah dibelajarkan dengan cara membaca buku teks dan berdiskusi dengan teman-temannya siswa dapat membedakan tumbuh-tumbuhan yang berkeping satu dengan yang berkeping dua. Setelah menelaah teks butir-butir pertama pancasila siswa dapat menjelaskan kaitan antara butir pertama dengan butir kedua secara benar dengan menggunakan kata-kata sendiri
Setelah menelaah teks butir-butir pertama pancasila, siswa dapat menjelaskan kaitan antara butir pertama dengan butir kedua secara benar dengan menggunakan kata-kata sendiri. Setelah siswa dibelajarkan dengan cara menelaah teks butir pertama pancasila, siswa dapat menjelaskan kaitan antara butir pertama dengan butir kedua secara benar dengan menggunakan kata-kata yang ada pada teks

Dari contoh yang disebutkan tersebut sangatlah jelas, bahwa tujuan pembelajaran yang kongruen dengan tujuan belajar siswa adalah :

  1. Punya kesamaan tercapainya tujuan dari segi waktu, yaitu setelah siswa belajar dan atau dibelajarkan.
  2. Punya kesamaan tercapainya tujuan dari segi substansinya,  aitu siswa bisa “apa” setelah belajar dan atau dibelajarkan.
  3. Punya kesamaan tercapainya tujuan dari segi cara mencapainya.
  4. Punya kesamaan takaran dalam pencapaian tujuan.
  5. Punya kesamaan dari segi pusat kegiatan, yaitu sama-sama berada pada diri siswa.

Agar tujuan pembelajaran yang kongruen dengan tujuan belajar tersebut jelas, berikut disajikan contoh tujuan pembelajaran yang tidak kongruen dengan tujuan belajar :

Contoh yang disebutkan tersebut, jelas menunjukkan tidak kongruen antara tujuan pembelajaran dengan tujuan belajar. Oleh karena itu tujuan pembelajaran demikian ini tidak menunjang pencapaian tujuan belajar. Ada perbedaan titik tekan antara tujuan belajar dengan tujuan pembelajaran. Pada contoh pertama dan kedua. substansi tujuan belajar telah dikacaukan oleh substansi tujuan pembelajaran. Sedangkan pada contoh ketiga dan keempat. tujuan belajar telah dikacaukan oleh tujuan pembelajaran dari segi cara penyampaiannya.

5.2.    Unsur-unsur dinamis pembelajaran kongruen dalam proses belajar siswa/mahasiswa

  1. Motivasi belajar menuntut sikap tanggap dari pihak guru serta kemampuan untuk mendorong motivasi dengan berbagai upaya pembelajaran. Ada beberapa prinsip yang dapat digunakan oleh guru dalam rangka memotivasi siswa agar belajar, ialah:
    1. Prinsip kebermaknaan, siswa termotivasi untuk mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya,
    2. Prasyarat, siswa lebih suka mempelajari sesuatu yang baru jika dia memiliki pengalaman prasyarat (prerckuisit).
    3. Model, siswa lebih suka memperoleh tingkah laku baru bila disajikan dengan suatu model perilaku yang dapat diamati dan ditim.
    4. Komunikasi terbuka, siswa lebih suka belajar bila penyajian ditata agar supaya pesan-pesan guru terbuka terhadap pendapat siswa.
    5. Daya tarik, siswa lebih suka belajar bila perhatiannya tertarik oleh penyajian yang menyenangkan/menarik.
    6. Aktif dan latihan, siswa lebih senang belajar bila dia dapat berperan aktif dalam latihan/praktik dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran
    7. Latihan yang terbagi, siswa lebih suka belajar bila latihan-latihan dilaksanakan dalamjangka waktu yang pendek.
    8. Tekanan instruksional, siswa lebih suka belajar terus bila kondisi pembelajaran menyenangkan baginya.
    9. Keadaan yang menyenangkan, siswa lebih suka belajar terus bila kondisi-kondisi pembelajaran menyenangkan bagmya.
  2. Sumber-sumber yang digunakan sebagai bahan belajar terdapat pada:
    1. Buku pelajaran yang sengaja disiapkan dan berkenan dengan mata ajaran tertentu. Bahan-bahan tersebut dapat berupa sumber pokok dan sumber pelengkap. Pemilihim buku-buku sumber telah ditetapkan dalam pedoman kurikulum dan berdasarkan pilihan guru berdasarkan pertimbangan tertentu. Buku-buku tersebut mungkin telah tersedia di perpustakaan sekolah, atau harus dibeli di pasaran buku.
    2. Pribadi guru sendiri pada dasamya merupakan sumber tak tertulis dan sangat penting serta sangat kaya dan luas, yang perlu dimanfaatkan secara maksimal. Itu sebabnya, guru senantiasa diminta agar terus belajar untuk memperkaya dan memperluas serta mendalami ilmu pengetalman, sehingga pada waktunya dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan belajar yang berdaya guna bagi kepentingan proses belajar siswa.
    3. Sumber masyarakat, juga merupakan sumber yang paling kaya bagi bahan belajar siswa. Hal-hal yang tidak tertulis dalam buku dan belum terkuasai oleh guru, ternyata ada dalam, masyarakat berupa objek, kejadian dan peninggalan sejarah. Hal-hal tersebut dapat digunakan sebagai bahan belajar. Untuk itu, guru perlu menyiapkan program pembelajaran dalam upaya memanfaatkan masyarakat sebagai sumber bahan belajar bagi siswanya.
  3. Pengadaan alat-alat bantu belajar dilakukan oleh guru, siswa sendiri dan bantuan orang ma. Namun, harus dipertimbangkan kesesuaian alat bantu belajar itu dengan tujuan belajar, kemampuan siswa sendiri, bahan yang dipelajari, dan ketersediaannya di sekolah. Prinsip kesesuaian ini perlu diperhatikan karena sering terjadi pemilihan dan penggunaan suatu alat bantu belajar ternyata tidak cocok untuk pengajaran dan ternyata tidak banyak pengaruhya terhadap keberhasilan belajar siswa. Prosedur yang harus ditempuh adalah:
    1. Memilih dan menggunakan alat bantuan yang tersedia di sekolah sesuai dengan rencana pembelajaran.
    2. Siswa memilih dan membuat sendiri alat bantu yang diperlukan, berdasarkan petunjuk dan bantuan guru.
    3. Membeli di pasaran bebas scandamya alat yang diperlukan itu ada di pasaran dan cocok dengan kegiatan belajar yang akan ditakukan.
  4. Untuk menjamin dan membina suasana belajar yang efektif. guru dan siswa dapat melakukan beberapa upaya sebapi berikut:
    1. Sikap guru sendiri terhadap pembelajaran di kelas. Guru diharapkan bersikap menunjang, membantu, adil, dan terbuka dalam kelas. Sikap-sikap tersebut pada gilirannya akan menciptakan suasana yang menyenangkan dan menggairahkan serta menciptakan antusiasme terhadap pelajaran yang sedang diberikan.
    2. Perlu adanya kesadaran yang tinggi di kalangan siswa untuk membina disiplin dan tata tertib yang baik di dalam kelas. Suasana yang disiplin ini juga ditentukan oleh perilaku guru, kemampuan guru memberikan pengajaran. serta suasana dalam diri siswa sendiri.
    3. Guru dan siswa berupaya menciptakan hubungan dan kerjasama yang serasi, selaras dan seimbang dalam kela. yang dijiwai oleh rasa kekeluargaan dan kebersamaan rasa tenggang rasa dan tanggung jawab untuk kepentingan bersama ternyata lebih efektif dibandingkan dengan suasana dengan persaingan, berusaha untuk kopentingan sendiri, dan pergaulan guru siswa yang renggang dan kaku.
  5. Subjek belajar yang berada dalam kondisi kurang mantap perlu diberikan binaan. Pembinaan kesehatan, penyesuaian bahan belajar dengan tingkat kecerdasan siswa, memperhatikan kesiapan belajar yang tepat waktunya, penyesuaian bahan, belajar dengan kemampuan dan bakatnya, dan memberikan pengalaman-pengalaman perekuisit, semua kondisi itu perlu terus dikontrol oleh guru. Sediakan waktu yang khusus untuk mengenal dan mengetahui dengan seksama semua kondisi subjek belajar. Bila diketahui terdapat ketidak seimbangan dan gangguan pada kondisi mereka, maka guru perlu segera melakukan upaya untuk memperbaiki dan meningkatkannya.

5.3. Unsur-unsur dinamis pembelajaran pada diri guru.

  1. a. Motivasi untuk membelajarkan siswa.

Guru harus memiliki motivasi untuk membelajarkan siswa. Motivasi itu sebaiknya timbul dari kesadaran yang tinggi untuk mendidik peserta didik menjadi warga negara yang bak. Jadi guru memiliki hasrat untuk menyiapkan siswa menjadi pribadi yang memiliki pengetahuan dan kemampuan tertentu. Namun, diakui bahwa motivasi pembelajaran itu sering timbul karena insentif yang diberikan, sehingga guru melaksanakan tugasnya sebaik mungkin. Kedua jenis motivasi itu diperlukan untuk membelajarkan siswa.

  1. Kondisi guru siap membelajarkan siswa.

Guru perlu memiliki kemampuan dan proses pembelajaran, disamping kemampuan kepribadian dan kemampuan kemasyarakatan. Kemampuan dalam proses pembelajaran sering disebut kemampuan profesional. Guru perlu berupaya meningkatkan kemampuan-kemampuan tersebut agar senantiasa berada dalam kondisi siap untuk membelajarkan siswa.