Pengertian, Tujuan, Fungsi, dan Prinsip Evaluasi Belajar IPA
Seperti kita ketahui bersama bahwa kegiatan evaluasi merupakan salah satu komponen utama yang harus dilaksanakan dalam suatu kegiatan pembelajaran. Dengan melaksanakan kegiatan evaluasi, kita akan memperoleh masukan tentang efektivitas kegiatan yang sudah kita lakukan baik dari sisi hasil maupun dari sisi proses. Melalui kegiatan evaluasi pula kita akan mampu membuat perencanaan yang lebih baik untuk kegiatan pembelajaran yang akan kita laksanakan kemudian.
Dalam kegiatan pembelajaran IPA di sekolah dasar, evaluasi memiliki peran yang sangat strategis. Dengan melaksanakan kegiatan evaluasi, seorang guru IPA di sekolah dasar akan mengetahui apakah tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya sudah tercapai atau belum. Melalui kegiatan evaluasi pula seorang guru IPA diharapkan mampu menjadi seorang guru yang reflektif, yang dapat belajar dari kesalahan – kesalahan yang telah dilakukan sebelumnya, sehingga dapat menjadi guru IPA yang lebih baik di masa sekarang dan masa yang akan datang.
Evaluasi bertujuan untuk mengetahui kemajuan belajar siswa, evaluasi juga diperlukan untuk keperluan perbaikan dan peningkatan kegiatan belajar siswa dan untuk memperoleh umpan balik bagi perbaikan pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar. Tujuan evaluasi di atas juga berlaku dalam pembelajaran IPA, diharapkan dengan pelaksanaan evaluasi belajar IPA di SD dapat memberikan penjelasan bagi guru IPA tentang kemajuan belajar yang telah dicapai oleh para siswanya, dan memperoleh umpan balik untuk dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran IPA dengan lebih baik pada kesempatan berikutnya.
Dalam melaksanakan kegiatan evaluasi pembelajaran IPA di sekolah dasar, hendaknya guru IPA memahami betul arti dari istilah evaluasi, pengukuran, , dan tes. Tes adalah bagian utama dari pengukuran, atau dengan kata lain bisa kita katakan bahwa pengukuran lebih luas dari tes. Pengukuran adalah bagian dari evaluasi, tetapi pengukuran tidak hanya digunakan untuk evaluasi, pengukuran juga digunakan untuk kegiatan lain. Sebaliknya evaluasi pun tidak sepenuhnya bergantung kepada pengukuran. Evaluasi dapat menggunakan instrument yang dikembangkan berdasarkan pengukuran, tetapi dapat juga menggunakan instrument yang tidak berhubungan dengan pengukuran.
Tyler (1949) mengartikan evaluasi sebagai “the process for determining the degree to wich these changes in behavior are actually taking place” Artinya suatu proses penentuan sampai berapa jauh sesungguhnya perubahan tingkah laku tersebut telah terjadi. Hamid Hasan (1991) mengatakan bahwa evaluasi adalah suatu proses yang sistematis dalam pertimbangan mengenai nilai dan arti seseuatu.
Bloom dan kawan-kawan, membuat penjabaran yang lebih rinci tentang tujuan pendidikan yang dikenal dengan Taksonomi tujuan pendidikan atau Taksonomy Bloom. Dalam taksonomi tersebut terdapat 3 ranah (domain) tujuan, yaitu : Ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotor.
Setiap ranah terdiri dari jenjang terendah dampai dengan jenjang tertinggi, seperti tertera dalam bagan di bawah ini :
Ranah Kognitif (C)
C6 Penilaian
C5 Sintesis
C4 Analisis
C3 Penerapan
C2 Pemahaman
C1 Ingatan
Ranah Afektif (A)
A5 Menjadi pola hidup
A4 Mengatur diri
A3 Menghargai
A2 Menanggapi
A1 Menerima
Ranah Psikomotor (P)
P5 Gerak kompleks
P4 Gerak Mekanik
P3 Menirukan
P2 Siap bertindak
P1 Persepsi
Guru IPA dalam suatu proses pembelajaran harus berusaha untuk membuat siswanya memiliki penguasaan materi ajar sesuai jenjang pada tiap ranah secara bertahap. Penguasaan ini harus sesuai dengan kompetensi dasar sampai indicator hasil belajar yang ingin dicapai. Hal ini juga sesuai dengan salah satu prinsip pengajaran, yaitu dimulai dari hal-hal yang mudah sebelum melangkah kepada hal-hal yang lebih kompleks. Jadi pada pencapaian ranah kognitif misalnya, guru bisa memulai dengan melatih siswa mengingat fakta-fakta di alam. Setelah mereka bisa mengingatnya dengan baik, guru melangkah kepada upaya untuk membuat siswa memahami mengapa fakta-fakta itu bisa terjadi, sampai akhirnya siswa bisa memberikan penilaian terhadap fakta-fakta yang terjadi..
Evaluasi Hasil Belajar IPA di SD
Secara umum, dalam pendidikan di Indonesia, hasil belajar dinyatakan dalam klasifikasi yang dikembangkan oleh Bloom dan kawan-kawan, seperti yang telah diuraikan sedikit di atas. Pada saat melaksanakan evaluasi hasil belajar IPA, seorang guru IPA di SD harus terlebih dahulu mengadakan telaah yang rinci dan tepat terhadap tujuan yang telah ditentukan sebelumnya (tercantum dalam indicator maupun tujuan pembelajaran), artinya seorang guru IPA harus secara tepat menentukan kemampuan apa (sesuai dengan klasifikasi bloom) yang diharapkan dalam tujuan yang telah ditentukan. Ketepatan penentuan kemampuan yang diharapkan ini akan berpengaruh terhadap instrument yang dibuat untuk mengukur hasil belajar siswa kita.
Di dalam pelaksanaan evaluasi hasil belajar IPA di SD, ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh seorang guru, yaitu :
- Harus tepat dalam menentukan alat evaluasi, apakah digunakan untuk mengukur konsep terdefinisi ataukah konsep teramati, ataukah untuk mengukur konsep yang menyatakan hubungan.
- Memperhatikan hakikat IPA sebagai produk, sebagai proses, dan sebagai sikap/nilai. Artinya dalam melaksanakan evaluasi tidak hanya ditekankan pada evaluasi IPA sebagai produk saja, tetapi memperhatikan evaluasi IPA sebagai proses, bahkan evaluasi hakikat IPA sebagai sikap atau nilai pun perlu dilakukan.
- Mengadakan evaluasi tidak hanya menggunakan instrument yang bersifat tertulis saja, tetapi juga mengadakan evaluasi terhadap hal-hal yang bisa diamati langsung di alam sebenarnya.
Evaluasi Proses Belajar IPA di SD
Evaluasi proses bermaksud untuk mendapatkan informasi sejauhmana kegiatan pembelajaran memberikan pengaruh kepada peserta didik. Karena yang ingin diketahui adalah kualitas pembelajaran, maka pada hakikatnya informasi yang terkumpul pada evaluasi proses, pengguna pertama adalah guru. Dengan hasil yang diperoleh dari evaluasi proses, seorang guru IPA dapat menentukan sikap apakah proses pembelajaran sudah berlangsung dengan baik, dan apakah guru sudah dapat beralih ke pokok bahasan berikutnya , atau apakah ia haus menggunakan pendekatan atau metode yang lain pada kegiatan berikutnya, dan lain sebagainya.
Hasil evaluasi proses yang kurang memuaskan berarti menunjukkan adanya kekurangan dalam proses pembelajaran, dan kekurangan ini harus diperbaiki, sehingga hasil evaluasi yang dilakukan setelah perbaikan proses dilaksanakan harus menjadi lebih baik dari proses sebelumnya. Dapat juga dikatakan bahwa kalau hasil evaluasi proses menunjukkan hasil yang kurang baik, maka berbagai alternative harus dicoba untuk menuju kearah pelaksanaan proses pembelajaran IPA yang lebih baik. Dalam mencoba alternative – alternative baru hendaknya seorang guru IPA harus tetap mengacu kepada teori-teori yang telah diketahui. Hal ini sebetulnya akan berlangsung lebih bermakna bagi guru IPA tersebut, jika upaya perbaikan proses pembelajaran IPA di sekolah dasar dilaksanakan dalam kerangka penelitian tindakan kelas.

